
Pengalaman warga di sekitar pembangkit yang menghadapi gas meledak, pipa meledak, dan kebocoran gas beracun membuat mereka trauma. Sepanjang hidupnya mereka akan berdampingan dengan proyek berisiko tinggi.
Hamparan tanaman kentang menyelimuti ribuan hektare lahan pertanian warga Desa Karangtengah dan Desa Bakal. Terlihat para petani melakukan aktivitas di lahannya. Ada yang membenahi sambungan peralon air, ada juga yang mencangkul dan menyemprotkan pestisida di bawah terik matahari yang cukup menyengat pada akhir Juli 2023.
Kedua desa itu itu berada di dataran tinggi Dieng, kawasan wisata terkenal di Jawa Tengah. Dieng memang indah dengan lanskap gunung yang mengitarinya seperti Prau, Pakuwaja, dan Sikunir.
Tak heran usaha turisme terus berkembang. Dari usaha penginapan sampai makanan, dari usaha glamping hingga jasa guide.
Namun, di balik keindahan dan hawa dingin alamnya, dengan sumber ekonomi rumah tangga mayoritas mengandalkan pertanian, warga petani Dieng menghadapi ekspansi pengeboran panas bumi atau geotermal.
PT Geo Dipa Energi (persero), badan usaha milik negara dari usaha patungan PT Pertamina dan PT PLN, mengoperasi pembangkit listri panas bumi atau PLTP Dieng unit 1 sebesar 60 MW sejak 2002.
Perusahaan juga punya proyek yang sama di Patuha di kawasan Ciwidey, Jawa Barat. Sejak 2020, baik di Dieng maupun Patuha, perusahaan menambah proyek geotermal bernama PLTP Unit 2 dengan kapasitas masing-masing 55 MW.
Dalam laporan tahunan 2022, Geo Dipa menyebut progres pengeboran proyek Dieng 2 sudah dalam tahap sumur ke-7 dari rencana 10 sumur. Per Desember 2022, progres keseluruhan proyek 40,63%, dengan total biaya aktual Rp1 triliun.
Menurut laporan itu, proyek Dieng 2 terlambat dari rencana operasi semula yang dijadwalkan, yakni tahun 2023 menjadi Desember 2025. Laporan juga menyebut estimasi biaya rekayasa, pengadaan barang dan jasa serta konstruksi pembangkit Dieng 2 sebesar Rp2,1 triliun.
Dalam laporan itu disebut bahwa perubahan, lokasi pembangkit listrik, dan teknologi Dieng 2 akan diajukan ke Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk disetujui.
Rilis resmi pemerintah pada 2020 menyebut proyek PLTP Dieng 2 memang mendapatkan pinjaman langsung dari ADB, yang juga melibatkan PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PT PII). Baik PT Geo Dipa Energi maupun PT PII adalah BUMN di bawah Kementerian Keuangan.
Di PT Geo Dipa, Kementerian Keuangan memiliki 94,5% saham, sisanya milik PT PLN. PLN juga adalah pembeli utama pasokan tenaga listrik panas bumi dari Geo Dipa. Pada 2022, pendapatan Geo Dipa sebesar Rp964 miliar. Total pembayaran pajak perusahaan kepada negara tahun 2022 sebesar Rp311 miliar.
Pengembangan proyek pembangkit listrik panas bumi di bawah PT Geo Dipa disebut sebagai bagian dari target 23% bauran energi baru terbarukan Indonesia pada tahun 2025. Proyek geotermal digadang pemerintah sebagai kebijakan dan program transisi energi untuk pelan-pelan lepas dari oligarki energi kotor.
Tetapi, bahkan sekalipun menjual “energi bersih”, warga sekitar pembangkit terus menyuarakan protes dan penolakan. Proyek geotermal disebut bisa memicu krisis ekologi setempat, mulai dari potensi pencemaran sumber mata air, limbah cair, kebocoran gas beracun, hingga pencemaran suara.
Insiden terakhir terjadi pada Maret 2022. Terjadi kebocoran gas beracun hidrogen sulfida (H2S) di wellpad (tapak sumur bor) 28. Seorang pekerja tewas dan delapan lainnya dirawat di rumah sakit.
Dalam keterangannya, Geo Dipa menyebut ada alat yang malafungsi sehingga kepala sumur terbuka yang melepaskan H2C. Seorang pekerja yang tewas itu menghirup gas beracun saat berusaha menutup kepala sumur.
Akibat kecelakaan itu, kapasitas suplai uap berkurang. Selain itu, Bank Pembangunan Asia (ADB) menyoroti isu keamanan dan keselamatan kerja. Dampaknya, menurut perusahaan, rencana pemasangan sumur Dieng 2 untuk Dieng 1 menjadi tertunda.
Selain kecelakaan terbaru itu, pernah pula terjadi ledakan di sumur pad 30 pada 2016 saat proses pembersihan rutin, menyebabkan enam pekerja mengalami luka bakar serius. Selain itu pada 2016 terjadi ledakan pipa di kolam air panas (brine water) unit 9 yang menyebabkan setidaknya 14 orang mengalami luka serius.
Pengalaman warga setempat di sekitar pembangkit yang menghadapi gas meledak, pipa meledak, dan kebocoran gas beracun ini membuat mereka trauma. Sepanjang hidupnya mereka akan berdampingan dengan proyek berisiko tinggi. Inilah salah satu alasan mereka menolak ekspansi PT Geo Dipa Energi membangun proyek baru bernama Dieng 2.
Upaya Menjaga Mata Air Sethulu
Sekarang ini salah satu titik perlawanan warga Dieng di sekitar pembangkit panas bumi adalah mata air Sethulu. Rencananya, 300 m dari mata air ini, akan ada pengeboran sumur untuk proyek Dieng 2.
Saya mendatangi mata air Sethulu dengan melewati beberapa petak lahan lalu berjalan di atas dataran cukup curam. Tiba di aliran sungai kecil lalu menuju titik mata air, saya harus melewai bebatuan penuh lumut yang licin dan tertutup alang-alang.
Saya pikir debit air Sethulu besar, ternyata hanya beberapa tetesan dari rembesan tanah padas yang menjulang dipenuhi tanaman liar. Saya mencicipi airnya. Rasanya menyegarkan dan tak berwarna. Tempatnya sejuk dan lembab dan sunyi.

Namun, mata air ini menjadi sumber kehidupan warga Desa Bakal dan sebagian warga Karangtengah, juga mengairi ribuan hektare lahan pertanian dan memasok air bersih untuk desa sekitarnya seperti Desa Condongcampur dan Gembol. Desa-desa ini terletak di Banjarnegara, bagian dari kawasan Dieng.
Rumah Edi Syukur, warga Bakal berumur 58 tahun, berada sekitar 500 m dari mata air tersebut. Edi menyebutnya berjarak 400 paralon.
“Kalau untuk kebutuhan harian, pipa peralon langsung dialirkan ke rumah, tapi untuk pertanian biasanya ditampung dulu di kubangan, terus disedot pakai mesin,” ucapnya.
Peralon-peralon yang menyambungkan mata air Sethulu ini dirawat oleh salah satu warga dengan membayar Rp1oo ribu per tahun, yang biasanya diberikan jelang Idulfitri.
Edi kawatir jika suatu saat debit mata air Sethulu akan habis tersedot pengeboran geotermal. “Kalau bisa, jangan sampai hal itu terjadi. Tapi jika proyeknya melebar, bisa aja,” katanya.
Dafiqul Fariq, pemuda Bakal, bersama teman-teman sebayanya berusaha menjaga mata air Sethulu dan sumber penghidupan lain dari perluasan proyek geotermal Geo Dipa.
Tergabung dalam Perpustakaan Rakyat Bakal, anak-anak muda Bakal menggelar berbagai kegiatan komunikasi dan edukasi. Selain untuk literasi, kelompok ini memproduksi film dokumenter tentang sejarah Desa Bakal.
Mereka telah menghasilkan tiga karya dokumenter, termasuk film yang mengangkat tema lingkungan serta menyuarakan kerusakan hutan di kawasan pegunungan Dieng.
“Film ini bercerita tentang hutan di Dieng yang makin berkurang dan kondisi air yang tercemar,” ujar Dafiq.
Dafiq menghawatirkan kondisi Dieng yang kian tak nyaman, juga kondisi lingkungannya terancam hancur, salah satunya terkait pengeboran panas bumi.
“Jangan sampai mata air Sethulu nanti tercemar dari proyek pengeboran panas bumi,” katanya.
Kelompok ini menggelar Sethulu Festival. Tahun ini adalah tahun ketiga, yang diadakan 23-27 Agustus 2023. Salah satu kegiatan festival ini adalah slametan banyu berupa pengambilan mata air lalu diguyurkan ke gunungan sayur yang telah disiapkan kemudian dibagikan kepada masyarakat. Festival juga mengadakan pengajian lingkungan dan panggung rakyat.
“Kita mungkin kalah dalam pembangunan, tetapi kita menang dalam kondisi masyarakat. Insyaallah, masyarakat tetap mendukung gerakan kita,” ucapnya.
Perlawanan di Karangtengah
Di antara ladang pertanian dan rumah-rumah warga, berlatar lanskap bukit semarak hijau dan berselimut dingin, pipa-pipa besi berdiameter 40 cm, yang mengalirkan uap panas dari tapak sumur bor menuju turbin pembangkit, malang-melintang di Desa Karangtengah.
Desa ini telah lebih dulu berteman dengan pembangkit panas bumi sejak PLTP Dieng 1 beroperasi pada 2002. Pagar lokasi pengeboran berdampingan dengan rumah warga. Cerobong-cerobong asap menyembul di dekat lahan pertanian warga. Suara meraung dari proyek pengeboran terdengar sepanjang hari.
Pada salah satu puncak perlawanannya, desa ini semarak dengan poster, baliho, dan mural yang dipasang di beberapa titik dan sudut strategis, yang menyuarakan perlawanan.
Dalam pertemuan di Balai Desa Karangtengah, Oktober 2022, yang dihadiri penjabat Bupati Banjarnegara dan perwakilan PT Geo Dipa Energi, warga tetap gigih menolak proyek geotermal Dieng 2.
Perlawanan ini sempat berhasil menyetop pembangunan wellpad 38, bagian dari rencana PLTP Dieng 2, di Desa Karangtengah.
Seorang warga Karangtengah bernama Rahma, 44 tahun, masih konsisten menolak proyek geotermal. Salah satu alasannya adalah pengalaman traumatis.
Ia mengisahkan seorang petani bersama anaknya sepulang dari ladang, terpental sejauh 25 m karena ledakan pipa proyek geotermal yang dilewatinya. Warga pun takut menolong karena di area itu adalah gas beracun.
Selain itu, di sisi tenggara desa, ada wellpad 9. Saat sumur ini beroperasi, atap rumah warga dari seng mudah berkarat, padahal sudah dilumuri aspal cair, kata Rahma.
Tak hanya itu, kualitas air di dukuh Pawuhan menjadi asin.
“Saat itulah kami mulai menolak proyek PLTP Dieng berdasarkan kejadian yang kami rasakan,” ujarnya.
“Jika listrik itu untuk masyarakat, kenapa di jalan-jalan desa gelap? Padahal bersebelahan dengan pembangkit listrik,” protesnya.
Benar saja, sepanjang 500 m dekat kantor PT Geo Dipa Energi tampak gelap, hanya lampu di area sumur pengeboran yang menyala. Terlihat asap putih tebal membumbung dari cerobong di atas kampung Karangtengah.
“Kalau dibayangkan rasanya ngeri. Listriknya banyak tapi alamnya rusak,” kata Rahma.
Berdasarkan pengalaman dari PTLP Dieng 1 inilah warga mulai mengumpulkan cerita dan dampak terhadap air, udara, serta kejadian kecelakaan kerja dan ledakan, selama mereka berteman dengan pembangkit panas bumi sepanjang 20 tahun. Dari dokumen pengalaman itulah warga menolak proyek PLTP Dieng 2.
“Untuk memperkuat penolakan, akhirnya warga muter-muter mencari bahan cerita dari desa-dasa yang menjadi ekspansi power plant Dieng unit 1,” kata Iqbal Alma dari Walhi Jawa Tengah.
Menurut Iqbal, sejak beroperasi, PT Geo Dipa memanfaatkan ketidaktahuan warga untuk memuluskan geotermal.
Saat ini ada kesadaran warga bahwa proyek ini mengancam lingkungan dan kehidupan mereka. “Ini bukan energi baru berkelanjutan, tapi dampak baru yang berkelanjutan,” katanya.
Proyek geotermal digadang-gadang mengurangi krisis global, tapi tambah Iqbal, “malah memperparah krisis lokal.”
Rahma berkata mayoritas warga Karangtengah masih menolak, “tapi sekarang enggak lagi frontal karena ada ketakutan.” Ketakutan itu, tambahnya, adalah warga takut dicap melawan “proyek negara.”
Mengelola Lahan 100 Ha
Berdasarkan keterangan Agus Supriyanto, Head of Corporate Communication and Social Performance Division PT Geo Dipa Energi, saat ini perusahaan mengelola lahan sekitar 100 ha.
“Jumlah ini termasuk penggunaan untuk power plant, pad (sumur), kebutuhan kantor, gudang, lahan kosong, jalur pipa, dan jalan inspeksi yang juga dimanfaatkan masyarakat,” katanya dalam jawaban tertulis saat dikonfirmasi serat.id pada 24 Agustus 2023.
Perusahaan, tulisnya, telah memberikan bonus produksi kepada pemerintah daerah.
“Penggunaan bonus produksi ini diprioritaskan untuk masyarakat yang berada paling dekat dengan proyek atau kegiatan pengusahaan panas bumi. Angka ini terus meningkat hingga berkisar lebih dari Rp2 miliar pada 2022,” ujar Agus.
Agus mengklaim bahwa perusahaan telah “membantu dalam penyerapan tenaga kerja lokal, juga pemberdayaan ekonomi lokal dengan pelibatan perusahaan-perusahaan sebagai kontraktor pemasok barang dan jasa” dalam proyek geotermal di Dieng.
Geo Dipa melakukan tanggung jawab sosial perusahaan berupa “perbaikan jalan Dusun Pawuhan di Desa Karangtengah dan Desa Pranten, pembangunan gerbang sekolah SDN 2 Karangtengah, perbaikan tempat ibadah di Desa Karangtengah, pembangunan senderan saluran air di Desa Karangtengah,” tulis Agus.
Geo Dipa juga mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti tempat pengolahan sampah Bukit Sugih Lestari, UMKM Seni Mekar Kancana Dwi Raksa dan Multimedia Jorjoran, serta program Sinergi Kopi Sugihmukti.
Selain itu, tulisnya, perusahaan telah menyalurkan bantuan sembako gratis sebanyak 5.150 paket dan santunan kepada 110 anak yatim untuk masyarakat di 12 desa di sekitar wilayah kerja produksi Dieng pada 2022.
“Dari sisi pendidikan, kami juga punya program beasiswa inspiratif Geo Dipa yang ditujukan bagi 30 pelajar SMA/SMK/MI dari 6 desa yang masuk kategori keluarga Program Keluarga Harapan (PKH) di tahun yang sama,” tambah Agus.
Pendekatan-pendekatan itu adalah salah satu upaya perusahaan membangun kepercayaan warga sekitar Dieng terhadap proyek panas bumi yang dikelola PT Geo Dipa Energi.
Agus berkata sebesar 40 persen potensi panas bumi dunia ada di Indonesia. Maka dari itu, pembangkit listrik panas bumi merupakah salah satu bagian penting dari roadmap transisi energi di Indonesia.
“Karena panas bumi yang dihasilkan secara alami akan terus ada,” tambahnya.
Dan pembangkit listrik panas bumi, lanjutnya, adalah sumber energi bersih dan ramah lingkungan.
Dari segi lahan, tambahnya, “pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya membutuhkan 1-8 ha lahan per MW, sedangkan 5-10 ha dan 19 ha diperlukan per MW untuk nuklir dan batubara.”
Agus menerangkan bahwa cara kerja PLTP Dieng menyedot uap panas dari perut bumi hingga kedalaman 1.500-3.000 m, dengan mengebor melalui sumur-sumur lalu dialirkan lewat pipa-pipa besi menuju turbin pembangkit.
Sisa uap yang sudah mendingin dikondensas menjadi air dan disalurkan lagi ke dalam perut bumi untuk menjaga keberlanjutan sumber panas bumi.
“Dari siklus itu dapat terlihat kebutuhan PLTP atas pelestarian hutan dan lingkungan,” katanya. “Karena PLTP membutuhkan penyerapan air secara alami untuk menjaga reservoir penghasil panas bumi,” ucapnya.
Merujuk jurnal penelitian Rigsis Energi Indonesia, perusahaan konsultan panas bumi, bertajuk “Manajemen Risiko dalam Pengeboran Eksplorasi panas bumi” (2019), pengeboran sumur hingga kedalaman 1.500-3.000 m seperti PLTP Dieng tergolong tipe lubang standar dan besar.
Pengeboran tipe ini membutuhkan pasokan air 60-95 liter per detik dan lahan wellpad seluas minimal 7.500 m2.
Sementara sumber limbah beracun dan berbahaya serta potensi pencemaran dari pembangkit geotermal di antaranya hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), air raksa (hg), arsen (As), silika (SiO2), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), dan minyak, berdasarkan sebuah jurnal (2019).
Agus Supriyanto menerangkan saat ini PT Geo Dipa sudah menyelesaikan fasa pemboran PLTP Dieng 2, untuk selanjutnya melakukan uji alir sumur produksi. Selain itu, tambahnya, proyek ini dalam tahap finalisasi dokumen pembangkit listrik.
Sekalipun begitu, pemuda Dieng seperti Dafiq terus melawan ekspansi bisnis Geo Dipa tersebut.
Dafiq menekankan bahwa masyarakat Bakal tetap menjaga mata air Sethulu, Sidandang, dan Siranti dari kerusakan lingkungan. Sebab, mata air adalah warisan leluhur yang patut dijaga sampai kapan pun.
“Kita tidak ada upaya untuk melawan negara, tetapi kita akan mempertahankan sumber kehidupan dari keserakahan atau kerusakan yang mengancam mata air,” kata Dafiq.