
Suasana gala premier film ‘Ketika Tuhan Berkata’ di Gedung Keuangan Negara II Jalan Imam Bonjol nomor 1D, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Minggu, 15 Desember 2024. (Intan/Serat.id)
Komunitas Sahabat Unik Luar Biasa (SULBI) gelar gala premiere film berjudul ‘Ketika Tuhan Berkata’ di Gedung Keuangan Negara II Jalan Imam Bonjol nomor 1D, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Minggu, 15 Desember 2024, berkolaborasi dengan Youtuber Tim Jejak Penolong.
Film ini mengisahkan tentang pertemanan disabilitas daksa, down sydrom, bisu, tuli dan non disabilitas. Tujuannya, untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas agar lebih mengenal pendidikan inklusi, serta menekankan tidak ada lagi diskriminasi terhadap disabilitas.
Ketua SULBI sekaligus penulis naskah ‘Ketika Tuhan Berkata’, Angelia Ramadhani mengatakan, dirinya menyakini bahwa semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Ketika kita memiliki keduanya, tergantung cara kita menyikapinya apakah kita akan berfokus pada kelebihan atau kekurangan kita. Padahal Tuhan telah menciptakan kita sebaik-baiknya manusia,” ucapnya usai acara.
Proses pembuatan film ini, kata Angelia, berlangsung selama setahun dari Desember 2023 lalu. Kesulitan dalam produsi yakni, sulitnya mencari lokasi syuting yang akses jalannya mudah dilalui oleh difabel fisik.
Setelah proses pencarian tempat syuting, akhirnya ditentukan di empat lokasi di antaranya, sungai dan hutan yang berdekatan dengan Kantor PMI Jawa Tengah, SD Bangunsari, dan Bukit Tandang alias Bukit Teletabis.
“Waktu itu kita pilih tempat syuting di sungai dan hutan yang jalannya tidak lurus jadi harus ada bala bantuan dari relawan untuk harus stay pada saat proses syuting,” ungkapnya.
Akan tetapi, lanjutnya, tim tidak merasa kesusahan saat mengarahkan aktor untuk pendalaman karakter untuk film ini. Justru, beberapa cast bersemangat untuk terus melanjutkan proses syuting sampai selesai.
“Kalau pribadi mereka tidak mengeluh kalau panas atau hujan. Kalau tidak syuting malah mereka nanya (kapan syuting lagi),” kata Angelia.
Film ini merupakan kali pertama diperankan langsung oleh mayoritas teman-teman disabilitas. Hal ini merupakan salah satu bentuk ekspresi dari kelompok marjinal yang perlu disuarakan melalui film.
“Bahkan dibalik layar ada juga teman difabel yang terlibat sebagai MUA dan membantu dalam pemilihan lokasi film,” imbuhnya.
Angelia berpesan kepada masyarakat melaui film ini, untuk membuka mata bahwa difabel juga bukan orang yang memiliki kekurangan tanpa kelebihan.
“Dan saya ingin membuktikan bahwa Tuhan itu adil secara nyata ketika kita memiliki kekurangan pasti Tuhan kasih kelebihan,” tegasnya.
SULBI berencana akan melakukan roadshow ke berbagai kota di Jawa Tengah, antara lain Blora, Kendal dan Kudus untuk mengenalkan film tersebut.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Herue Iskandar mengapresiasi karya film yang diciptakan oleh teman-teman difabel. Menurutnya, film ini memberikan inspirasi semua masyarakat, khususnya anak-anak agar mereka selama bersekolah diberi pembelajaran yang memperlakukan semua manusia itu sama.
“Tidak ada perbedaan apalagi kalau sudah ada sekolah inklusi ini yang harus dilakukan dari pengajar dan teman-teman di sekolah itu memperlakukan anak difabel itu sederajat. Suatu saat semua orang memiliki potensi untuk menjadi disabilitas, tidak hanya dari lahir, namun juga pada saat sudah dewasa,” katanya. (*)