“Alat musik sape itu terbuat dari kayu Kalimantan, jika hutan kita gundul terus terjadi deforestasi oleh perusahaan. Maka tidak ada lagi kayu-kayu yang akan kami manfaatkan untuk membuat sape,”

Suardi, masyarakat adat Dayat, Kalimantan Barat sedang memainkan alat musik Sape di Rock In Solo untuk menyuarakan kerusakan hutan, Sabtu, 14 Desember 2024.(Iksan/Serat.id)
Di tengah dentuman suara musik-musik keras yang mewarnai festival tahunan Rock in Solo. Suardi, pemuda masyarakat adat Dayat Kalimantan Barat memainkan alat musik tradisional sape dengan penuh emosional.
Setiap jemarinya memetik senar, Suardi nampak bahagia di tengah kegundahannya terhadap alih fungsi hutan yang dapat mengancam kehidupan masyarakat adat Dayat. Melalui alat musik sape, Suardi melakukan perlawanan terhadap kerusakan hutan di tanah kelahirannya Desa Kualan Hilir, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang.
“Alat musik sape itu terbuat dari kayu Kalimantan, jika hutan kita gundul terus terjadi deforestasi oleh perusahaan. Maka tidak ada lagi kayu-kayu yang akan kami manfaatkan untuk membuat sape,” sindir Suardi, Sabtu, 14 Desember 2024.
Bagi Suardi, terkhusus masyarakat adat Dayat, mengibaratkan hutan sebagai mini marketnya Kalimantan. Masyarakat dengan mudah memetik buah-buahan maupun sayur-sayuran.
Suardi tak akan lelah menyampaikan keresahan terkait kondisi hutan di Kalimantan Barat. Dia akan memperjuangkan sekuat tenaga untuk mempertahankan habitat hutan sebagai ruang hidup beragam flora dan fauna.
“Ketika pemerintah menghancurkan hutan, culture masyarakat setempat juga akan hancur. Kami akan melawan sebagai pemuda Dayat terutama pewaris musik sape,” imbuhnya.
Hal senada juga diungkap oleh pentolan grup band LAS!, Bob Gloriaus. Bahkan grup band asal Pontianak tersebut punya cara melampiaskan keresahan kerusakan hutan di Kalimantan Barat dengan melahirkan karya-karya musik.
Bagi Bob, hutan merupakan sumber pengetahuan dan kebudayaan masyarakat setempat. Dia tidak terlalu berharap banyak karya-karyanya yang menyinggung kondisi hutan Kalimantan Barat dapat menggugah masyarakat.
“Kalau pesan tersirat (karya-karya) soal hutan Kalimantan itu saya hanya ingin mengaplikasi isunya saja. Karena secara mendetail semua orang punya persepsi masing-masing, kita hanya menebar isu kepada pendengar, silahkan mereka mau konsen isu mana. Tapi kami terfokus pada permasalahan hutan dan masyarakat adat,” ungkap Bob.
Bob menyadari karya-karya yang diciptakan tidak mungkin dapat mengubah dunia dalam sekejap. Namun dia memiliki keyakinan paling tidak karya LAS! dapat menyadarkan secara perlahan kepada generasi muda soal pentingnya merawat hutan untuk keberlanjutan hidup.
“Coba kita melihat perabotan rumah entah itu furniture atau kursi berasal dari hutan. Dengan kondisi yang sekarang, sudah saatnya kita memikirkan kembali hubungan kita dengan alam, takutnya konsumsi manusia mempengaruhi pola-pola industrinya,” paparnya.
Penebusan Dosa Melalui “Prahara Jenggala”
Tak hanya musisi asal Kalimantan yang gencar menyuarakan kerusakan hutan. Grup band metal ternama di Surakarta, Down For Life melakukan aksi penebusan dosa atas hilangnya ratusan hektar hutan Kalimantan di era rezim Jokowi. Mereka membuat video klip Prahara Jenggala yang menggambarkan kondisi hutan di Kalimantan Barat.
“Sebagai warga Solo, saya memang mendukung (Jokowi), tetapi ketika kepribadiannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kami percaya. Kami mengkritisi dan melawan,” salah satu musisi Down For Life, Stephanus Adjie.
Lelaki yang akrab disapa Adji mengutarakan jika masyarakat kritis bukan berarti benci terhadap pemerintah. Mereka hanya ingin mengingatkan agar pemerintah membuat kebijakan yang tidak merugikan masyarakat dan merusak lingkungan.
“Apa gunanya kita menjadi negara maju tapi kemudian banjir terus, cuacanya panas dan banyak terjadi bencana alam. Gerakan kami bukan tentang melawan rezim, tapi bagaimana kita bersama-sama menyelamatkan alam,” terangnya.
Sementara itu, Tim Kampanye dan Advokasi Trend Asia, Irfan Alghifari, mengatakan semua orang termasuk musisi dan seniman punya hak menyuarakan isu-isu lingkungan. Persoalan ruang hidup tidak bisa hanya mengandalkan aktivis atau lembaga masyarakat yang terkonsentrasi pada masalah lingkungan.
“Misalnya ada pertanyaan kenapa Trend Asia terlibat dalam konser musik rock? Pertanyaan itu lalu dibalik kenapa nggak, karena situasi krisis iklim yang kami lihat dari hasil riset semakin besar. Semua orang tanpa terkecuali orang menyuarakan persoalan tersebut,” ujar Irfan.
Irfan membeberkan kegelisahan para musisi menyuarakan kerusakan hutan di Kalimantan Barat sebuah kewajaran. Mengingat pemerintah dengan kebijakannya menghilangkan ruang kehidupan masyarakat adat Dayak yang sudah lama hidup berdampingan dengan hutan.
“Bukan masyarakat adat saja yang tergusur, tapi semua orang. Dari awal negara itu memang tidak punya kaca mata yang fair terhadap masyarakat,” tandasnya.