Kekecewaan publik kepada pemerintah kembali mencuat dengan terlihat tagar Peringatan Darurat dengan lambang garuda berlatar belakang warna hitam dengan gerakan PENTOL yang merupakan akronim dari enam tunutan masyarakat untuk pemerintah yang trending di platform media sosial X.

Aksi Kamisan Semarang di di depan Mapolda Jawa Tengah, Kamis, 6 Februari 2025.
Aksi Kamisan Semarang menyinggung kinerja Menteri ESDM, Bahlil Lahladia dan Menteri HAM, Natalius Pigai, layak untuk direshuffle oleh Pemerintah Pusat.
Koordinator Aksi Kamisan Semarang Natael Bremana mengatakan alasan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia layak untuk direshuffle imbas dari kelangkaan gas LPG 3 KG yang terjadi di masyarakat.
“Sudah seharusnya Presiden Prabowo melakukan reshuffle karna Menteri ESDM yang sekarang tidak cukup berkompeten dalam menjalankan kinerjanya sebagai seorang menteri karena mengurus gas saja tidak bisa, apalagi ini sudah menelan korban,” kata Natael Bremana saat aksi di depan Mapolda Jawa Tengah, Kamis, 6 Februari 2025.
Bremana menyebut bahwa kematian ibu rumah tangga akibat mengantre gas LPG 3 KG merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Ia menyoroti kebijakan Bahlil yang membatasi pembelian gas LPG 3 kg hanya melalui pangkalan resmi, bukan lagi di warung pengecer, sebagai penyebab kelangkaan.
Meskipun kebijakan ini bertujuan baik, ia menilai bahwa penerapannya tidak didasarkan pada kajian mendalam dan persiapan yang matang. Padahal, ketersediaan LPG 3 kg sangat berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak.
“Ketika kebijakan ini berubah maka terdampak ke mereka secara langsung,” katanya
Lebih lanjut, Bremana juga menyinggung alasan mengapa Menteri HAM, Natalius Pigai, layak direshuffle. Dalam rapat kerja DPR, disampaikan bahwa Menteri HAM dianggap tidak melakukan tindakan signifikan.
Bremana mengaku kecewa, mengingat banyaknya kasus pelanggaran HAM yang terjadi. Sebagai contoh, di Kota Semarang terdapat kasus penembakan Gamma, seorang pelajar SMK, serta kasus penganiayaan terhadap Darso.
“Artinya Menteri HAM tak becus dalam bekerja,” katanya
Selain itu ia juga menyebut kekecewaan publik kepada pemerintah kembali mencuat dengan terlihat tagar Peringatan Darurat dengan lambang garuda berlatar belakang warna hitam dengan gerakan PENTOL yang merupakan akronim dari enam tunutan masyarakat untuk pemerintah yang trending di platform media sosial X.
Salah satu tuntutan dalam gerakan tersebut adalah perbaikan kinerja kepolisian. Ia menyoroti pernyataan Kapolri Listyo Sigit yang ingin menindaklanjuti kasus dengan cepat tanpa menunggu viral, tetapi realitas di lapangan masih jauh dari harapan.
Menurutnya, kepolisian masih menggunakan metode lama, seperti pembungkaman, pemerasan, intervensi, dan intimidasi.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak boleh hanya sebatas ucapan, tetapi harus diimplementasikan dengan nyata dan diawasi secara ketat.
“Tidak hanya sekedar penyampaian belaka (oleh kepolisian), seperti kami akan mengusut atau kami akan menuntaskan, tapi diungkapkan bahwa mereka harus menerima balasan yg setimpal,” katanya.