“Jadi penjualnya itu Santi, Tika, sama Risma, terus kita singkat aja jadi Santikarisma.”

Serat.id – Di antara sejumlah band di Kota Semarang, nama Santikarisma termasuk yang produktif menggarap lagu. Band ini lahir pada tahun 2012 di sebuah angkringan bernama Kucingan Santi di dekat Taman Indonesia Kaya.
“Jadi penjualnya itu Santi, Tika, sama Risma, terus kita singkat aja jadi Santikarisma,” tutur Isa Rizky Pradana, gitaris Santikarisma, perihal muasal nama bandnya.
Saat itu, Isa Rizky Pradana, Rio, dan Achmad Sofyan merasa bahwa bahwa band mereka terdahulu stagnan. Pada saat yang sama, ada tawaran untuk mengisi panggung pentas seni yang diselenggarakan SMA Negeri 3 Semarang.
Gayung bersambut, mereka bertiga mengajak dua orang lagi untuk membentuk Santikarisma. Stoner/southern-rock dipilih sebagai aliran musik yang mereka tekuni.
Selama hampir 10 tahun eksis, Santikarisma telah merilis album pernuh Sugestivisi (2017), single “Dogmatis” (2019), dan single “Hingar Bingar Warta Blingsatan” (2020). Bahkan pada 1 Januari 2021, Santikarisma sempat bermain-main dengan merilis album bernafaskan punk rock bertajuk Resolusi (Album Punk Edisi Natal & Tahun Baru).
Terus aktif bermusik hingga saat ini, bisa dikatakan Santikarisma meneruskan semangat Gagak Rimang Stoned dan Octopuz yang lebih dahulu mengusung musik stoner di Semarang.
Album Sugestivisi yang menjadi anak pertama mereka berisikan 9 track. Penggarapan album ini dimulai sejak 2014, tetapi baru dirilis tahun 2017.
Penggarapan album yang cukup lama, diakui Isa karena standar kualitas hasil rekaman yang mereka patok cukup tinggi untuk hitungan saat itu. Efeknya, biaya untuk mixing dan mastering membengkak sehingga mereka perlu menunda perilisan album untuk mengumpulkan dana terlebih dahulu.
“Mixing itu mahal. Sekitar 600-700 ribu per lagu, dan kita ada hampir 10 track. Jadi harus ngumpulin sekitar 6-7 juta buat mixing,” ujar Isa. Di tengah pengumpulan dana, Disaster Records menawarkan bantuan untuk menyelesaikan album Sugestivisi. Dengan bantuan Disaster Records, Sugestivisi akhirnya dirilis dalam format kaset pita dan disebar di beberapa platform digital streaming.
Dalam situs ensiklopedia musik Allmusic.com, stoner didefinisikan sebagai musik dengan suara gitar tebal, berat, juga tempo yang lemas sehingga memberikan efek mengwang pada pendengar, seperti rekaman-rekaman milik Kyuss, Sleep, dan Electric Wizard.
Dalam Sugestivisi, hal itu tidak terjadi.
Santikarisma menggabungkan beberapa elemen di luar pakem stoner dalam komposisi mereka. Tempo yang dimainkan dalam Sugestivisi cenderung lebih cepat dan vokal yang diolah Rio pun lebih bernergi dibanding kebanyakan rekaman stoner, seperti dalam track “Rima Renjana” dan “Kembalikan Derajat”.
Dalam “Kembalikan Derajat”, menjelang penghujung lagu Rio mengumandangkan “Panas memuncak dingin hingga nol derajat. Hujan deras turun hingga di penghujung kemarau,” lalu dihajar ketukan kencang drum bernuansa hardcore/punk dan melodi gitar yang kekar.
Lagu “Kembalikan Derajat” adalah lagu pertama yang dibuat Santikarisma. Lagu ini membicarakan isu perubahan iklim dan pemanasan global yang menurut pengakuan Rio sedang ramai dibicarakan pada 2012.
“Aku sebagai penulis lirik concern sama media yang menulis itu dan baca-baca banyak soal global warming,” ucap Rio.
Menjaga eksistensi band jelas bukan perkara mudah. Seringkali kegiatan bermusik menjadi beban pikiran sendiri bagi para personil. Santikarisma sadar atas hal itu. Dalam menjaga nyala semangat selama hampir 10 tahun, formula mereka sederhana saja: mengembalikan bermusik sebagai katarsis di tengah kepenatan hidup sehari-hari dan menjalankannya untuk bersenang-senang.
“Barometernya itu kalau kita, kita seneng aja. Selesai. Apalagi sih resepnya nge-band selain seneng?” tambah Isa.
Dengan mengedepankan bersenang-senang, mereka terus memiliki energi untuk bermain musik. Bahkan perasaan penat bermain musik tidak mereka rasakan sama sekali. Mereka tidak ambil pusing dengan popularitas dan bagaimana pakem-pakem musik dimainkan. Kalaupun musik yang mereka garap tidak sesuai pakem-pakem musik stoner dan tidak laku, mereka mengaku tidak masalah selama hasilnya sesuai keinginan.
Geliat Santikarisma selama 10 tahun diakui oleh Brury, penggiat musik Semarang. Pemilik toko rilisan musik Come Store ini mengapresiasi keteguhan Santikarisma bermusik, walau para personil memiliki pekerjaan dan beberapa memiliki projek musik selain Santikarisma.
Brury juga memuji cara Santikarisma merilis single “Hingar Bingar Warta Blingsatan”. Pada 28 November 2020, Santikarisma mengajak para ilustrator Semarang untuk merepon lagunya dengan karya visual. Hasilnya lalu dipamerkan dalam pameren “Alternate Exhibition III” di kedai kopi Bunker.
Namun bagi Brury, geliat-geliat yang Santikarisma lakukan perlu dimaksimalkan lagi agar perkembangan mereka tidak stagnan. Salah satunya adalah dengan membangun basis penggemar di kota sendiri. Apalagi di era digital di mana informasi terus datang serupa banjir dan eksistensi sebuah band bisa hanyut kapan saja.
“Jangan sampai lupa, kalian harus menaklukkan kota kalian sendiri,” tegas Brury.
Keinginan membangun basis di kota sendiri sebenarnya muncul setelah Santikarisma tur ke enam kota di pulau Jawa sepanjang Agustus-September 2018. Di sana mereka melihat sendiri geliat musik di tiap kota dan perbedaannya dengan Semarang.
Bagi Santikarisma, perbedaan mendasar adalah di Semarang belum memiliki kebiasaan yang sehat secara finansial. Soal komersialisasi, seperti membuat acara yang bertiket, seringkali dianggap tabu oleh banyak pelaku dan penikmat musik di Semarang. Padahal, uang yang didapat dipakai untuk kebutuhan kegiatan dan keberlanjutan ekosistem.
Membuat ekosistem yang sehat secara finansial sedang diupayakan Santikarisma. Jika kondisi sudah aman untuk berkerumun, mereka berencana berkolaborasi dengan pelaku musik lain dalam mengadakan showcase. Nantinya, hasil penjualan tiket akan dibagi dengan pihak-pihak yang terlibat agar memiliki kas untuk kegiatan-kegiatan berikutnya.
“Ini bukan mata duitan, tapi supaya muter terus,” tegas Isa.
Penulis: Gregorius Manurung, magang Serat.id