Dari enam unit isotank yang dibeli baru empat sampai di Jateng, sedangkan dua lainya belum datang.

Serat.id – Sebanyak enam unit isotank senilai Rp7,65 miliar yang dibeli pemerintah provinsi Jawa Tengah pertengahan Agustus bakal tak terpakai. Keberadaan isotank yang didatangkan dari Singapura itu sebelumnya untuk membantu kelangkaan oksigen rumah sakit (RS) selama pandemi Covid-19.
“Namun masalahnya, saat ini angka Covid-19 sudah menurun, sehingga isotank yang telah dibeli tak akan banyak terpakai,” kata Ketua Panitia Khusus (Pansus) Penanggulangan Covid-19 DPRD Jateng Abang Baginda Muhammad Mahfuz Hasibuan, Selasa, 31 Agustus 2021.8.31
Menurut Baginda, dari enam unit isotank yang dibeli menggunakan Corporate Social Responsibility (CSR), baru empat sampai di Jateng, sedangkan dua lainya belum datang. “Persoalan kelangkaan oksigen di rumah sakit sudah tidak ada karena Covid mereda. Lalu isotank mau diapakan?,” kata Baginda mempertanyakan.
Baginda berpendapat pembelian isotank tidak akan banyak berguna saat ini. Sebab isotank hanya merupakan sarana pendistribusian oksigen. Hal itu berbeda jika Pemprov Jateng kemarin menggunakan dana CSR untuk membeli oksigen, sehingga sangat bermanfaat bagi masyarakat yang saat itu sedang membutuh.
“Sekarang isotank mau diapain, mau dibuat bisnis? Pemprov tidak punya pengalaman untuk bisnis oksigen, tidak punya unit usaha yang sudah menjalankan bisnis itu,” kata Baginda menegaskan.
Kebijakan pembelian isontank itu harus dievaluasi, diaudit, termasuk dasar membelian. Ia menilai langkah Pemprov Jateng menangani kelangkaan oksigen saat puncak gelombang kedua Covid-19 lalu cukup kacau. Pasalnya, kelangkaan oksigen di masyarakat banyak terjadi. Banyak warga yang kesulitan mendapatkan oksigen.
Selain itu Pemprov Jateng juga tak bisa memberikan supervisi secara maksimal ketika kabupaten dan kota mengalami kesulitan menangani membeludaknya pasien Covid-19 beberapa waktu lalu.
“Beberapa rumah sakit di daerah minta bantuan Pemprov. Ada yang minta bantuan ICU, disetujui provinsi, tapi sampai hari ini, sampai covid reda bantuan tidak turun,” kata Baginda menjelaskan .
Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo mengaku sudah memberikan sejumlah bantuan dan fasilitas ke RS. Mulai bantuan APD, rapid test antigen, PCR, alat ICU, hingga laboratorium PCR di RS.
“Di Jateng ada 13 RS lini 1, 63 RS lini 2, dan RS lini 3 yang jumlahnya lebih banyak lagi. Jika dijumlah ada sekitar 265 RS rujukan Covid-19,” kata Yulianto.
Menurut Yulianto, secara aturan RS lini 1 merupakan tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Namun fakta di lapangan, hampir semua RS meminta bantuan ke Pemprov. “Seluruh rumah sakit di Jateng minta apa-apa ke provinsi. Mulai APD, rapid test antigen, PCR, alat ICU. Termasuk lab PCR di rumah sakit sebagian besar yang membelikan kita,” katanya. (*)