M.S Mintardjo nampak serius menyimak dan mencatatnya ucapan Mr.Wongsonegoro. Pimpinan rapat di tengah hari bolong di lantai dua Gedung Djawa Hookokai yang saat itu menjabat sebagai Fuku Syucokan (Wakil Residen) Semarang.
Wartawan Kantor Berita Domei Cabang Semarang ini memang mendapat penugasan dari redaksi untuk meliput jalannya sidang Komite Persiapan Indonesia Merdeka pada Jumat, 17 Agustus 1945.
Tiba-tiba Sjarief Soelaiman (rekan kerja di Domei) menghampirinya.
“Aku diajak turun ke bawah,” tulis Mintardjo dalam Gema Proklmasi 45 di Semarang, di Majalah Intisari, terbitan Agustus 1970.
Soelaiman kemudian memberikan secarik kertas berupa sandi morse dari Kantor Domei Pusat Jakarta. Isinya naskah berita teks proklamasi kemerdekaan.
Rekan sejawatnya ini meminta Mintardjo menyiarkan melalui siaran kilat dan menggandakan dengan mesin stensil. Namun Mintardjo menolak karena tak bisa mengetik di mesin stensil Jepang.
Mintardjo lalu melempar ide dengan menyampaikan berita proklamasi itu kepada Mr. Wongsonegoro, agar tersampaikan di hadapan peserta sidang.
“Yang pasti berita proklamasi dibaca hingga dua kali. Rapat kemudian dibubarkan setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pekik “Hidup Bung Karno, hidup Bung Hatta, hidup Bangsa Indonesia”,” tulis Mintardjo.
Tak hanya itu, Mintardjo juga mengusulkan siaran proklamasi melalui Semarang Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang), Rikuyu (Jawatan Kereta Api), Kanrikodan (Badan Pengawas).
“Juga diketik dan dicetak lalu tempel di tempat-tempat umum,” imbuh Soelaiman, sebagaimana kesaksian Mintardjo.