
Serat.id-Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang mulai rusak, Komunitas Wayang Gaga dari Mijen, Kota Semarang membuat replika lima wayang raksasa. Kelima wayang itu mencerminkan panglima perang masa depan.
” Bumi kita saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Untuk itu, kami buat replika wayang raksasa yang menceritakan, kelima wayang tersebut sebagai penyelamat bumi yang mulai rusak,” ujar penggagas Wayang Gaga, Pambuko Septriadi kepada Serat.id, Jumat, 19 Oktober 2018.
Pambuko mengungkapkan, proses pembuatan replika Pandawa Lima yang terdiri atas Arjuna, Bima, Yudistira, Nakulo, dan Sadewa itu. Wayang yang terbuat dari tali, bambu, dan kain setinggi sekitar 2,5 meter hingga 3 meter itu diwarnai dengan berbagai warna yang mencolok.
“Kelima wayang raksasa itu dibuat dari bahan alami,” Jelas pria berkaca mata itu.
Dia menjelaskan, konsep pembuatan kelima wayang raksasa itu bertema futuristik dengan memberikan warna-warna mencolok di tubuh wayang. Hal itu menggambarkan kehidupan masa kini identik dengan kehidupan yang gemerlap.
“Kehidupan sekarang kan penuh warna makanya tubuh replika wayang itu dikasih warna-warnaya mencolok, biasanya wayang warnanya cokelat,” terangnya.
Sementara itu, salah satu anggota Komunitas Wayang Gaga , Bambang Tirta mengungkapkan, untuk tokoh Werkudara dibuat tanpa topeng. Sebab, Werkudara merupakan tokoh pewayangan yang berwatak ksatria dengan karakter pemberani.
“Dari kelima wayang itu hanya satu yang tidak bertopeng, yakni tokoh Werkudara karena berkarakter pemberani dan ksatria namun tetap dengan tampilan tubuh warna yang mencolok,” kata Tirta
Proses pembuatan replika tiap wayang itu, kata dia, hanya memakan waktu beberapa hari. Ia berharap dengan adanya replika wayang raksasa ini mampu memberikan pesan kepada masyarakat untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan.
“Selama proses pembuatan memerlukan kesabaran dan ketelitian saat menganyam bambu. Saya berharap dengan adanya replika ini mampu menjadi pengingat warga agar lebih peduli lagi dengan lingkungan sekitar,” jelas Tirta.
Replika wayang raksasa itu akan dipamerkan selama dua hari mulai, Sabtu, 20 Oktober 2018 dalam Festival Bojong sebagai photobooth.(*)