Temuan Paul ini dinilai penting, sebab, pantuan serat.id di TPA Jatibarang masih terdapat sekitar 2 ribuan sapi milik 150 warga yang tinggal di sekitar TPA Jatibarang. Muhtarom menyebut, ribuan sapi tersebut yang akan direlokasi ke area perumputan dengan luas sekitar 5 hektare yang masih satu kompleks dengan wilayah TPA Jatibarang.
Riset Michelle Allsopp, Pat Costner dan Paul Johnston, dari Universitas Exeter, Inggris, kerjasama dengan Laboratorium Riset Greenpeace, dalam buku Incineration and Human Health: State of Knowledge of the Impacts of Waste Incinerators on Human Health menunjukkan bahwa PLTSa insinerator turut mencemari tiga aspek udara, air dan tanah.
Dampak dari pencemaran udara menurut mereka, berdasarkan 15 negara yang menggunakan PLTSa insinerator, selama tahun 1980an hingga pertengahan 1990an telah menyumbang 50 persen senyawa dioksin ke udara pada 1995. Selain itu, insinerator turut menghasilkan senyawa organik seperti hidrokarbon poliartomik (PAH), dan beberapa senyawa klorin seperti bifenil poliklorin (PCB), napthalen polikroninasi (PCN), klorobenzena dan klorofenol.
PLTSa Insinerator disebut juga dapat menghasilkan senyawa logam berat ke udara. Misalnya ketika Uni Eropa, pada tahun 1990 melaporkan PLTSa insinerator telah menyumbang dampak buruk delapan persen emisi kadmium atau setara 16 ton per tahun dan menghasilkan 16 persen emisi merkuri atau 36 ton per tahun.
Pembangkit listrik dari pembakaran sampah itu juga turut menghasilkan emisi kromium yang berjumlah 46 ton dan lebih dari 300 ton timbal. Senyawa lain yang dihasilkan PLTSa insinerator ke udara ialah partikulat, maupun gas sampah anorganik.
“Abu dari pembakaran PLTSa sama dengan kandungan polusi ke udara hanya berbeda konsentrasi dan komposisi”, tulis laporan penelitian itu.
Dampak PLTSa pada air turut menghasilkan limbah dari hasil wett scrubber. Air limbah tersebut mengandung logam berat seperti timbal, kadmium, tembaga, merkuri, seng, antinomi, kadar garam tinggi, dan bahan organik yang tak terbakar dari residu.