Indonesia merupakan negara yang beragam memiliki suku bangsa, adat dan budaya berbeda-beda. Namun keberagaman tersebut terus diuji dengan adanya berbagai konflik yang terjadi di berbagai daerah.

Serat.id – Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) menyebut beberapa kasus intoleransi di Jawa Tengah sulit diselesaikan karena ada kesengajaan pembiaran sehingga menguap begitu saja tanpa menemui titik penyelesaian. eLSA mencatat pada tahun 2020, ada sekitar 6 kasus khusus yang berkaitan dengan tindakan intoleransi di Jawa Tengah.
“Dari pemantauan selama satu dasawarsa yang dilakukan oleh eLSA, masih ada sekitar 6 kasus Intoleransi di Jawa Tengah,” kata aktivis Lembaga Studi Sosial dan Agama Tedi Kholiludin saat Konferensi Pers, Sabtu, 24 Juli 2021.
Adapun temuan pada periode tersebut ada yang tidak bisa dikategorikan sebagai kasus intoleransi. Akan tetapi, masih berkaitan dengan konflik keagaaman. “Sehingga ada beberapa kasus yang sulit untuk diselesaikan dan hanya dibiarkan menguap begitu saja tanpa menemui titik penyelesaian,” kata Tedi menjelaskan.
Menurut Tedi hal itu disebabkan rata -rata kasus yang terjadi berkaitan dengan etnis dan agama sedikit sulit ditangani. Ia mencontohkan ketika Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) melakukan penolakan terhadap logo peringatan HUT RI ke-75 yang dianggap memiliki beberapa elemen berbentuk salib.
Kasus lain, seperti Penolakan pembangunan gereja di Mojolaban, Sukoharjo yang awalnya di tolak, tapi pada akhirnya masyarakat mengalah.
Meski ia menyebut ada juga kasus intoleransi yang bisa diselesaikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, salah satunya kasus teror yang dialami seorang siswi di Sragen akibat dirinya tidak memakai jilbab.
Hal ini sempat menjadi sorotan beberapa pihak termasuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berusaha menindak perlakuan oknum yang melakukan teror meskipun pada akhirnya siswi yang berkaitan memutuskan untuk pindah sekolah.
Tedi menyebut Indonesia merupakan negara yang beragam memiliki suku bangsa, adat dan budaya berbeda-beda. Namun keberagaman tersebut terus diuji dengan adanya berbagai konflik yang terjadi di berbagai daerah. Banyak terjadi pemasalahan kehidupan keagamaan di masyarakat karena adanya identitas etnis dan agama. (*) Andini Wahyupratiwi, mahsiswa peserta UKJ Undip-AJI Semarang 2021