“Kenaikan air laut tak lepas dari fenomena mencairnya es dikutub bumi dan pemuaian air laut karena pemanasan global”.

Serat.id – Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim tahun 2021, menyebutkan kawasan Asia Tenggara akan mengalami dampak yang cukup parah. Salah satuya ancaman tenggelamnya pesisir utara pulau Jawa yang sudah menjadi ancaman nyata.
Kerentanan kawasan ini terhadap kenaikan permukaan air laut ditemukan lebih cepat terjadi dibandingkan daerah lain sehingga semakin diperburuk oleh pergeseran tektonik dan efek surutnya air tanah.
“Kenaikan air laut tak lepas dari fenomena mencairnya es di kutub bumi dan pemuaian air laut karena pemanasan global. Inilah yang mengakibatkan penambahan volume air laut, serta meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir yang menggenangi wilayah daratan,” kata Wakil Ketua Kelompok Kerja I IPCC, Profesor Edvin Aldrian, dalam pernyataan resmi yang diterima Serat.id, Jum’at, 17 September 2021.9.17
Edwin mengatakan hilangnya wilayah pesisir dan kemunduran garis pantai di Asia Tenggara telah diamati dari tahun 1984 hingga 2015. Proyeksi menunjukkan bahwa permukaan laut regional rata-rata terus meningkat.
“Ini membuat kejadian banjir lebih sering di derah pantai,” kata Edwin menambahkan.
Menurut Edwin, kondisi itu ditambah lagi Tingkat Total Ekstrim Air atau Extreme Total Water Level lebih tinggi di daerah dataran rendah dan erosi pantai mulai terjadi di sepanjang pantai berpasir. Ia menyimpulkan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia menyebabkan
tingkat banjir yang lebih tinggi termasuk yang terjadi pada pesisir utara Pulau Jawa.
Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh Badan Riset dan Inovasi Nasional Rokhis Khomarudin membenarkan dampak perubahan iklim terhadap pesisir utara Pulau Jawa yang semakin tinggi. Rokhis menyebut hal itu dipicu oleh penurunan permukaan tanah di wilayah tersebut.
“Manusia ikut menjadi faktor penyebab yang signifikan. Konsumsi air tanah yang masif dan tidak terkendali menyebabkan turunnya permukaan tanah,” kata Rokhis.
Meski saat ini dampaknya belum terlalu terasa, namun ia mengingatkan risiko turunnya permukaan tanah jelas membawa kerugian besar, baik dari sisi sosial maupun ekonomi bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
Rokhis menguti[ hasil pemantauan citra satelit terbukti terjadi penurunan muka tanah di DKI Jakarta antara 0.1-8 cm per tahun, Cirebon antara 0.3-4 cm per tahun, Pekalongan antara 2.1-11 cm per tahun, Semarang antara 0.9 – 6 cm per tahun, dan Surabaya antara 0.3 – 4.3 cm per tahun .
Dari data satelit tergambar bahwa pesisir utara Jawa, terutama Pekalongan, mengalami penurunan muka tanah yang paling tajam. Kondisi geologi daerah pesisir yang merupakan tanah lunak ditunjang dengan peningkatan pembangunan pemukiman dan penggunaan air tanah menyebabkan penurunan muka tanah semakin tinggi.
“Perlu adanya monitoring terhadap penurunan tanah dan laju perubahan garis pantai akibat perubahan ketinggian air laut,” kata Rokhis menjelaskan. (*)