Minyak goreng bekas yang dikelola lewat program Sedekah Jelantahdijual untuk kebutuhan bantuan Covid-19 bagi warga.

Serat.id – Warga Perumahan Wates Permai Kelurahan Wates, Ngaliyan Kota Semarang telah memanfaatkan minyak goreng bekas atau sering disebut jelantah, untuk membantu perekonomian selama pandemi Covid-19. Keberadaan jelantah juga digunakan menjadi bahan kebutuhan rumahtangga seperti sabun dan lilin aroma terapi..
“Pemanafaatan minyak gireng bekas itu dilakukan lewat program Sedekah Jelantah dan sudah berlangsung selama dua tahun. Hasilnya sudah dirasakan warga,” kata penggagas program Sedekah Jelantah Ika Sulystiowati, Sabtu, 5 Februari 2022.
Menurut Ika, program derma minyak goreng bekas rumah tangga ini dilaksanakan sebulan sekali bersamaan pertemuan anggota dasa wisma dan Posyandu. Awalnya keberadaan minyak goreng bekas yang dibuang begitu saja dikeluhkan karena sering menyumbat saluran selokan warga perumahan.
“Akibat limbah jelantah membeku, tumpukan sampah menggunung yang mengganggu pemandangan, hingga genangan air pada barang bekas yang bisa memicu berkembang biaknya nyamuk demam darah,” kata Ika menjelaskan.
Hal itu menjadi salah satu dorongan warga di satu RT tepatnya RT01/RW5 memannfaatkan jelantah agar lebih menghasilkan yakni dijuak kembali ke pengepul. Ternyata warga mampu mengumpulkan 2 sampai 5 liter minyak goreng bekas setiap bulan.
“Jelantah kemudian dijual kepada pengepul senilai Rp5 ribu sampai Rp7 ribu per liter tergantung kurs dolar,” kata Ika menambahkan.
Selain dijual kembali, warga Perum Wates Permai berinovasi memproduksi sabun dan lilin aroma terapi dari jelantah. Namun sejauh ini produk yang dihasilkan masih dikonsumsi oleh warga sendiri karena terbatas.
Sedangkan hasil penjualan itu digunakan untuk membantu warga terdampak pandemi dan penyintas Covid-19. “Sedangkan dari penjualan minyak goreng bekas itu Per KK mendapatkan bantuan kebutuhan pokok atau makanan jadi senilai Rp200 ribu,” katanya.
Ika berharap warga bisa memproduksi sendiri bahan kebutuhan dari bekas minyak goreng di rumah sebagai pemasukan membantu perekonomian keluarga. Terlebih selama pandemi Covid-19 ketika sebagian warga mengeluhkan penurunan pendapatan hingga pemutusan hubungan kerja. (*) kontributor tulisan Yohana Indriani