Akulturasi sumber daya alam gunung Merbabu dengan prillaku masyarakat menjadikan kesenian tumbuh subur di sekitar setempat khususnya di desa Wonolelo Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Serat.id – Kesenian Jatilan dengan beragam jenisnya seperti Rampak Buto, Tiji Tibeh, serta Soreng, tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat lereng gunung Merbabu. Kesenian Jatilan itu tumbuh berkembang seiring dengan budaya setempat dan sumber daya alamnya yang dapat dinikmati semua orang.
“Kesenian di lereng Merbabu tumbuh subur karena terbentuk dari kultur masyarakat yang agraris,” kata Umar, pemerhati kesenian dan kebudayaan Kabupaten Magelang dikutip dari laman, dprd.jatengprov.go.id, Jum’at 25 Maret 2022.
Menurut Umar, akulturasi sumber daya alam gunung Merbabu dengan prillaku masyarakat menjadikan kesenian tumbuh subur di sekitar setempat khususnya di desa Wonolelo Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. “Bermacam bentuk kesenian terkelola baik oleh warga yang tinggal di kaki gunung tersebut,” kata Umar menambahkan.
Ia menyebut jatilan salah satu kesenian di lereng Merbabu tumbuh subur karena terbentuk dari kultur masyarakat yang agraris seperti di Desa Wonolelo yang memiliki lebih dari 40 varian tarian. Ia menjelaskan, masing-masing dusun memiliki satu tarian yang diturunkan secara turun temurun.
“Hal tersebut dikarenakan seni merupakan bagian dari hidup masyarakat Desa Wonolelo dimana pelaku seni dapat memainkan kesenian tersebut dengan hati,” kata Umar menjelaskan.
Ia berharap pelaku seni khususnya di Desa Wonolelo ini mendapatkan perhatian khusus dan dibuatkan wadah agar masyarakat dapat terus melestarikan kesenian tradisional yang ada di Desa Wonolelo.
Tercatat di desa itu terdapat 18 dusun, masing-masing dusun paling tidak memiliki satu tarian tradisional dengan total jumlahnya ada 40 tari tradisional. Suburnya kesenian itu didukung perilaku masyarakat yang menganggap seni itu bagian dari hidup mereka.
“Jadi ketika mereka menampilkan kesenian mereka dapat menampilkannya dengan hati. Di desa Wonolelo ini dengan paling tidak membuatkan sanggar atau wadah agar masyarakat dapat terus melestarikan kesenian tradisional yang ada” katanya.
Salah satu seniman Jatilan, di desa Barjo bahwa pelaku seni masih membutuhkan bantuan agar dapat membenahi alat musik serta pakaian yang mereka gunakan untuk tampil karna sudah usang.
“Gamelan kami sudah usang suara yang dikeluarkan juga tidak semerdu kalau masih baru,” kata barjo.
Selain itu ia menyebut kostum yang kami gunakan juga sudah lama tak diperbarui. Bahkan sudah hampir 10 tahun ini para seniman rata-rata menggenaakan pakaian usang saat pentas. “Semoga kedepannya dapat diperhatikan agar menambah semangat kami dalam melestarikan kesenian ini,” ujar Barjo berharap. (*)