“Selain Suku Jawa, pulau dengan luas wilayah 139 hektare juga didiami oleh warga dari Suku Bajo, Bugis, Buton, Madura, dan Nias,”

Serat.id – Keberagaman penduduk Desa Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa, terbangun sejak dulu. Warga di pulau itu terdiri dari berbagai suku warga bisa hidup berdampingan dengan rukun sebagai miniatur bangsa yang perlu terus dilestarikan.
“Selain Suku Jawa, pulau dengan luas wilayah 139 hektare juga didiami oleh warga dari Suku Bajo, Bugis, Buton, Madura, dan Nias,” kata Petinggi Desa Nyamuk, Muazis, dikutip dari laman jatengprov.go.id, Senin 16 Mei 2022
Menurut Muazis, Desa Nyamuk merupakan pemekaran Desa Parang pada 2011. Wilayah itu memiliki 206 kepala keluarga, dengan jumlah penduduk 656 orang jiwa. “Meski mereka terdiri dari berbagai suku, namun hidup berdampingan dan rukun,” kata Muazis menjelaskan.
Warga desa Nyamuk terdiri dari keturunan suku Buton (Sulawesi Tenggara), Toprikan, mengaku senang tinggal di desa itu. Dia juga suka mempelajari tradisi suku Jawa, salah satunya dengan pertunjukan wayang kulit yang digelar pemeirntah.
“Meski kita beda suku, senang bisa melihat kesenian Jawa, khususnya wayang kulit,” kata Toprikan.
Bupati Jepara Dian Kristiandi sebelumnya telah menggelar wayang kulit di desa yang banyak dihuni beragam suku itu. Saat menikmati wayangan, Dian berpesan agar masyarakat desa Naymuk saling menjaga kebudayaan dan tradisi yang ada, serta tidak saling mengejek kebudayaan satu dan lainnya.
“Saya sangat senang sekali bisa melihat masyarakat yang beragam suku kumpul jadi satu, untuk menyaksikan wayang kulit,” kata Andi, sapaan akrab Dian Kristandi.
Terkait pertunjukan wayang kulit, Andi menyampaikan, selain menjadi tontonan dalam pertunjukan tersebut juga ada tuntunan di dalamnya. Gambaran perilaku masyarakat tersebut, dilakonkan melalui tokoh-tokoh pewayangan.
“Harapan ke depan terus dilakukan pelestarian budaya, pemerintah berupaya maksimal untuk bisa menggelar pertunjukan budaya setiap tahunnya di Pulau Nyamuk,” katanya. (*)