Sabtu, Agustus 30, 2025
27.6 C
Semarang

Siapkan “Panglima Perang” untuk Kerusakan Alam

Komunitas Wayang Gaga dari Mijen, Kota Semarang membuat replika lima wayang raksasa sebagai bentuk kepedulian terhadap kerusakan lingkungan.
Komunitas Wayang Gaga dari Mijen, Kota Semarang membuat replika lima wayang raksasa sebagai bentuk kepedulian terhadap kerusakan lingkungan.

Serat.id-Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang mulai rusak, Komunitas Wayang Gaga dari Mijen, Kota Semarang membuat replika lima wayang raksasa. Kelima wayang itu mencerminkan panglima perang masa depan.

” Bumi kita saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Untuk itu, kami buat replika wayang raksasa yang menceritakan, kelima wayang tersebut sebagai penyelamat bumi yang mulai rusak,” ujar penggagas Wayang Gaga, Pambuko Septriadi kepada Serat.id, Jumat, 19 Oktober 2018.

Pambuko mengungkapkan, proses pembuatan replika Pandawa Lima yang terdiri atas Arjuna, Bima, Yudistira, Nakulo, dan Sadewa itu. Wayang yang terbuat dari tali, bambu, dan kain setinggi sekitar 2,5 meter hingga 3 meter itu diwarnai dengan berbagai warna yang mencolok.

“Kelima wayang raksasa itu dibuat dari bahan alami,” Jelas pria berkaca mata itu.

Dia menjelaskan, konsep pembuatan kelima wayang raksasa itu bertema futuristik dengan memberikan warna-warna mencolok di tubuh wayang. Hal itu menggambarkan kehidupan masa kini identik dengan kehidupan yang gemerlap.

“Kehidupan sekarang kan penuh warna makanya tubuh replika wayang itu dikasih warna-warnaya mencolok, biasanya wayang warnanya cokelat,” terangnya.

Sementara itu, salah satu anggota Komunitas Wayang Gaga , Bambang Tirta mengungkapkan, untuk tokoh Werkudara dibuat tanpa topeng. Sebab, Werkudara merupakan tokoh pewayangan yang berwatak ksatria dengan karakter pemberani.

“Dari kelima wayang itu hanya satu yang tidak bertopeng, yakni tokoh Werkudara karena berkarakter pemberani dan ksatria namun tetap dengan tampilan tubuh warna yang mencolok,” kata Tirta

Proses pembuatan replika tiap wayang itu, kata dia, hanya memakan waktu beberapa hari. Ia berharap dengan adanya replika wayang raksasa ini mampu memberikan pesan kepada masyarakat untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan.

“Selama proses pembuatan memerlukan kesabaran dan ketelitian saat menganyam bambu. Saya berharap dengan adanya replika ini mampu menjadi pengingat warga agar lebih peduli lagi dengan lingkungan sekitar,” jelas Tirta.

Replika wayang raksasa itu akan dipamerkan selama dua hari mulai, Sabtu, 20 Oktober 2018 dalam Festival Bojong sebagai photobooth.(*)

Hot this week

Jurnalis MNC Terluka Usai Meliput Aksi di Grobogan, AJI Semarang: Polda Jateng Harus Usut Tuntas Kasus Ini

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang mengecam keras aksi pembacokan...

Robig Penembak Mati Gamma Resmi Dipecat

Illustrasi sidang Robig Zainudin di Mapolda Jawa Tengah pada...

Lima Mahasiswa Aksi Hari Buruh Jalani Sidang Perdana di Pengadilan Negeri Semarang

Kelima mahasiswa saat sedang menjalani sidang perdana di Pengadilan...

Puluhan Warga Pati Terluka, Sebagian Terkena Selongsong Peluru

Massa aksi saat melakukan protes kenaikan PBB sebesar 250...

Saparan di Kopeng, Tradisi Ucap Syukur Kepada Alam

Festival Budaya Kulon Kayon di dusun Sleker, Desa Kopeng,...

Topics

Jurnalis MNC Terluka Usai Meliput Aksi di Grobogan, AJI Semarang: Polda Jateng Harus Usut Tuntas Kasus Ini

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang mengecam keras aksi pembacokan...

Robig Penembak Mati Gamma Resmi Dipecat

Illustrasi sidang Robig Zainudin di Mapolda Jawa Tengah pada...

Lima Mahasiswa Aksi Hari Buruh Jalani Sidang Perdana di Pengadilan Negeri Semarang

Kelima mahasiswa saat sedang menjalani sidang perdana di Pengadilan...

Puluhan Warga Pati Terluka, Sebagian Terkena Selongsong Peluru

Massa aksi saat melakukan protes kenaikan PBB sebesar 250...

Saparan di Kopeng, Tradisi Ucap Syukur Kepada Alam

Festival Budaya Kulon Kayon di dusun Sleker, Desa Kopeng,...

Robig Divonis 15 Tahun Penjara, LBH Semarang: Polri Harus Memecatnya

Suasana Sidang Robig Zainudin di Pengadilan Negeri Semarang, Jumat,...

Komunitas Sastra di Kendal Kembali Gelar KCA 2025

Beberapa komunitas sastra di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah kembali...

Ini Desakan Koalisi Advokat Progresif Indonesia Terkait RUU KUHAP

Koalisi Advokat Progresif Indonesia (KAPI) menyoroti sejumlah pasal dalam...
spot_img

Related Articles

Popular Categories

spot_imgspot_img