Para calon anggota sebelumnya mengajukan pendaftaran kemudian diseleksi secara administrasi. Namun mereka banyak yang tak lolos screening yang hasilnya dikirim majelis etik AJI Semarang.

Serat.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang telah membekali calon anggota baru sebanyak tujuh orang, terdiri dari jurnalis, penulis, dan pegiat pers mahasiswa. Pembekalan dilakukan di Sabtu hingga Minggu, 12-13 Februari di Pondok Baca, Boja Kabupaten Kendal sebagai hasil penyaringan dari 37 orang yang mendaftar sebagai calon anggota yang sangat ketat.
“Tujuh calon anggota yang dibekali merupakan hasil seleksi proses wanacara pemantauan hingga pengumpulan data informasi,” ketua bidang organisasi AJI Kota Semarang, Muhammad Dafi, saat pembekalan.
Menurut Dafi, para calon anggota sebelumnya mengajukan pendaftaran kemudian diseleksi secara administrasi. Namun mereka banyak yang tak lolos screening yang hasilnya dikirim majelis etik AJI Semarang.
Screening dilakukan oleh pengurus AJI Kota Semarang, mereka mewawancarai satu persatu dari 37 pendaftar yang hasil wawancaranya di berupa rekaman dan catatan dikirim ke majelis etik. “Nah majelis etik kemudian mengeluarkan rekomendasi yang hasilnya tujuh calon anggota kemudian ikut pembekalan ini,” kata Dafi menambahkan.
Sedangkan pembekalan memberi pemahaman ke calon anggota tentang sejarah AJI dismapikan langsung oleh ketua AJI Indonesia Sasmito Madrin. Selain itu membedah kode etik dan kode perilaku serta mengkaji isu perempuan dan kelompok marginal serta hubungan industrial pekerja media.
Dari proses itu calon anggota masih akan dipantau selama satu tahun ke depan sebelum benar-benar menjadi anggota AJI. “Kami menyiapkan tim khusus yang sutau saat memberikan laporan,” kata Dafi menjelaskan.
Ia mengakui proses perekrutan anggota AJI rumit karena ingin mempertahankan komitmen sebagai organisasi pelopor kebebasan pers yang tak hanya memperjuangkan kesejahteraan namun juga profesionalitas.
Ketua AJI Kota Semarang Aris Mulyawan mengatakan perekrutan calon anggota dilakukan sejak pertengahan tahun 2021 lalu. Mereka yang berhasil lolos diharapkan bisa bergabung untuk memperjuangkan kebebasan pers di Kota Semarang dan sekitarnya. “Terlebih saat media dihadapkan dengan revolusi digital munculnya media sosial, hingga banyak kasus kelompok marginal yang tak dapat menyuarakan,” kata Aris.
Aris yakin pembekalan yang dilakukan kemarin menjadi catatan bagi calon anggota sebelum secara resmi mendapatkan nomor keanggotaan pada tahun depan. (*)