Sampai sekarang upaya penggembosan perjuangan warga masih ada. Dilakukan warga yang berpihak pada PLTU seperti fitnah, adudomba, penjegalan karakter diantara warga itu sendiri

Serat.id – Warga nelayan Roban Timur, Kelurahan Sengon, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, peringatan 10 tahun perjuangan melawan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Batubara di wilayah mereka. Acara digelar Rabu malam 18 Agustus 2021 pukul 19.30.
“Acara ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh Subhanallah Wa Ta’ala, bahwa perjuangan warga Roban Timur sangat berpengaruh bagi pihak PLTU,” kata Tokoh masyarakat Roban Timur, Abdul Hakim,
Ia mengaku jika konsistensi perjuangan warga, mampu menunda PLTU Batang beroperasi proyek senilai Rp60 triliun berkapasitas 2 X 1000 megawatt ini, didanai Japan Bank for International Cooperation (JBIC) melalui tiga pengembang yakni, J-Power, Ithocu dan Adaro.
“Sampai sekarang upaya penggembosan perjuangan juga masih ada. Itu dilakukan warga yang berpihak pada PLTU. Seperti fitnah, adudomba, penjegalan karakter diantara warga itu sendiri,” katan Halim menambahkan.
Kegiatan yang dilakukan di tempat pelelangan ikan (TPI) Roban Timur itu dihadiri sekitar 50 orang, terdiri anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak serta tetap menerapkan protokol kesehatan. Mereka membentangkan kain putih berukuran 2 meter kali 4 meter bertuliskan ‘Dirgahayu RI ke 76, 10 tahun perjuangan warga Roban timur, tetap berjuang, Merdeka tanpa PLTU 2011-2021’, sebagai latar belakang kegitan.
Hakim berharap agar perjuangan warga ini bisa membuahkan hasil, agar laut tempat nelayan mencari nafkah tidak tercemari limbah PLTU. “Tidak ada hal yang mustahil jika Tuhan menghendaki, PLTU hengkang dari Batang. Hanya orang-orang dungu lah yang putus asa dan menjadi pengkhianat,”katanya.
Pegiat lingkungan Greenpeace, Dinar Bayu mengtakan jika kegiatan doa bersama satu dekade perjuangan, merupakan jalan panjang untuk mempertahankan keberlangsungan hidup masyarakat nelayan, serta kelestarian lingkungan agar bersih dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan PLTU Batubara.
Menurut Dinar hingga sekarang pihak PLTU masih berupaya meredam perjuangan warga, salah satunya dengan menyusupi oknum pemecah belah persaudaraan warga roban timur. “Tapi yakinlah usaha ini akan sia-sia, persaudaraan warga roban lebih kental dan terlalu mahal untuk ditukar dengan uang dan janji manis pihak PLTU,” kata Dinar menjelaskan.
Tercatat warga telah puluhan kali menggelar aksi, hampir semua kementerian terkait ditemui, dan mendatngi investor di Jepang dua kali. “Upaya bertemu presiden juga sudah dilakukan, namun usaha tersebut tak melunakan hati pemerintah dan pembangunan tetap berjalan sampai sekarang, tapi semangat warga tetap tinggi. Panjang umur perlawanan, tolak PLTU harga mati,” kata Dinar menegaskan. (*)