Kuliah yang dilakukan secara online dilakukan di tengah kesibukan bekerja

Serat.id –Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi DKI Jakarta Paristiyanti Nurwardani mengajak Pekerja Migran Indonesia (PMI) agar terus meningkatkan kompetensinya dengan cara tetap berkuliah.
“Karena sekarang belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, siapa saja tanpa mengenal batas usia ataupun pekerjaan. Jadi saya mendorong PMI, walaupun sudah menjadi pahlawan devisa untuk negara kita, jangan lupa terus belajar untuk perbaikan nasib di masa yang akan datang dengan kompetensi yang luar biasa!,” kata Nurwardani, saat Webinar Online Universitas Siber Asia, bersama ratusan pekerja migran Indonesia yang ada di Korea Selatan, Sabtu hingga Minggu akhir pekan lalu.
Kuliah yang dilakukan secara online dilakukan di tengah kesibukan bekerja, lembaganya juga sudah mengawal kuliah online sejak dua tahun lalu mulai diselenggarakan sampai sekarang. “Saat ini mengurus akreditasi,”kata Nurwardani menambahkan.
Kuliah Online juga disebutnya telah menjadi simbol kerjasama yang kuat antara Indonesia dan Korea Selatan. Sistem pendidikan itu telah diresmikan sejak tahun 2020 lalu di Universitas Siber Asia “Sehingga saya bisa memberi penjaminan mutu sebagai Kepala LLDIKTI Jakarta, bahwa fasilitas dan pengajar kuliah online, menguasai teknologi dan mengajak mahasiswanya untuk menguasai teknologi masa depan!,” kata Nurwardan menjelaskan.
Sedangkan kompetensi masa depan, dijabarkan lebih lanjut oleh Paristiyanti, ada lebih dari 10 bidang. Beberapa diantaranya menulis secara akademik, digital marketing, pengembangan produk, analisis data, kecerdasan buatan (Artificial Intelligent), cloud computing, working with people, penggunaan teknologi.
Selain itu investasi dan lapangan pekerjaan di industri yang membutuhkan kompetensi masa depan juga kini tumbuh secara cepat. Berdasarkan statistik, Korea Selatan kini menjadi investor ketiga terbesar di Indonesia. Investasi yang ditanamkan mayoritas di bidang manufaktur dan digital.
Sehingga dapat dipastikan, tren pekerjaan yang bermitra dengan Korea Selatan kedepan juga akan beralih dari pekerjaan padat karya menjadi pekerjaan cerdas. Disinilah pentingnya PMI untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu bertahan dan meningkatkan karir di tengah cepatnya perkembangan teknologi.
Wakil Kepala Perwakilan RI Seoul, Zelda Wulan Kartika mengatakan pentingnya pekerja migran Indonesia berkuliah. Menurut Zelda, saat ini baru 1 persen PMI di Korea yang menempuh pendidikan yang lebih tinggi minimal sarjana.
“Angka ini berarti, PMI yang berkuliah hanya 280 orang, dari 34 ribu Warga Negara Indonesia yang bekerja di Korea Selatan,”kata Zelda.
KBRI Seoul secara aktif memfasilitasi dan selalu mendorong seluruh WNI yang berdomisili di Korea, khususnya para PMI untuk terus meningkatkan kompetensinya. “Termasuk kuliah online sebagai langkah percepatan bagi para pekerja Indonesia untuk bisa kuliah!,” kata Zelda menjelaskan. (*)
“Karena sekarang belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, siapa saja tanpa mengenal batas usia ataupun pekerjaan. Jadi saya mendorong PMI, walaupun sudah menjadi pahlawan devisa untuk negara kita, jangan lupa terus belajar untuk perbaikan nasib di masa yang akan datang dengan kompetensi yang luar biasa!,” kata Nurwardani, saat Webinar Online Universitas Siber Asia, bersama ratusan pekerja migran Indonesia yang ada di Korea Selatan, Sabtu hingga Minggu akhir pekan lalu.
Kuliah yang dilakukan secara online dilakukan di tengah kesibukan bekerja, lembaganya juga sudah mengawal kuliah online sejak dua tahun lalu mulai diselenggarakan sampai sekarang. “Saat ini mengurus akreditasi,”kata Nurwardani menambahkan.
Kuliah Online juga disebutnya telah menjadi simbol kerjasama yang kuat antara Indonesia dan Korea Selatan. Sistem pendidikan itu telah diresmikan sejak tahun 2020 lalu di Universitas Siber Asia “Sehingga saya bisa memberi penjaminan mutu sebagai Kepala LLDIKTI Jakarta, bahwa fasilitas dan pengajar kuliah online, menguasai teknologi dan mengajak mahasiswanya untuk menguasai teknologi masa depan!,” kata Nurwardan menjelaskan.
Sedangkan kompetensi masa depan, dijabarkan lebih lanjut oleh Paristiyanti, ada lebih dari 10 bidang. Beberapa diantaranya menulis secara akademik, digital marketing, pengembangan produk, analisis data, kecerdasan buatan (Artificial Intelligent), cloud computing, working with people, penggunaan teknologi.
Selain itu investasi dan lapangan pekerjaan di industri yang membutuhkan kompetensi masa depan juga kini tumbuh secara cepat. Berdasarkan statistik, Korea Selatan kini menjadi investor ketiga terbesar di Indonesia. Investasi yang ditanamkan mayoritas di bidang manufaktur dan digital.
Sehingga dapat dipastikan, tren pekerjaan yang bermitra dengan Korea Selatan kedepan juga akan beralih dari pekerjaan padat karya menjadi pekerjaan cerdas. Disinilah pentingnya PMI untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu bertahan dan meningkatkan karir di tengah cepatnya perkembangan teknologi.
Wakil Kepala Perwakilan RI Seoul, Zelda Wulan Kartika mengatakan pentingnya pekerja migran Indonesia berkuliah. Menurut Zelda, saat ini baru 1 persen PMI di Korea yang menempuh pendidikan yang lebih tinggi minimal sarjana.
“Angka ini berarti, PMI yang berkuliah hanya 280 orang, dari 34 ribu Warga Negara Indonesia yang bekerja di Korea Selatan,”kata Zelda.
KBRI Seoul secara aktif memfasilitasi dan selalu mendorong seluruh WNI yang berdomisili di Korea, khususnya para PMI untuk terus meningkatkan kompetensinya. “Termasuk kuliah online sebagai langkah percepatan bagi para pekerja Indonesia untuk bisa kuliah!,” kata Zelda menjelaskan. (*)