Menginap di penginapan ini serasa kembali ke alam bahkan kebutuhan listrik 100 persen menggunakan solar panel atau tenaga surya.

Dibangun di sisi timur kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah, penginapan Floating Paradise nampak mungil dikelilingi antara rimbun tanaman bakau dan air pantai yang tenang. Penginapan di kawasan pantai Legon Lele itu hanya menyewakan dua kamar dengan bangunan semi permanen terbuat dari kayu dan bambu.
Menginap di penginapan ini serasa kembali ke alam bahkan kebutuhan listrik 100 persen menggunakan solar panel atau tenaga surya.
“Awalnya saya menggunakan disel untuk kebutuhan listrik. Itu tahun 2017 akhir saat saya bangun tempat ini,” kata pemilik Floating Paradise, Tono kepada Serat.id pekan lalu.
Penginapan tersebut sudah terlihat eksotis dari pertama kali memasuki kawasan mangrove, dengan jembatan dari kayu menuju bangunan utama dan dua bangunan lagi disebelahnya. Dari dalam kamar, terlihat pemandangan bukit dan laut nan hijau. Dari teras kamar juga bisa melihat karang dan ikan laut.
Tono mejelaskan, awal ia beralih dari pemakaian diesel karena suaranya terlalu keras dan menggangu ketenangan. “Suara disel itu brisik. Belum lagi bahan bakar solar juga sering menetes di tanah dan air. Jadi saya merasa bersalah kepada alam,” kata Tono menambahkan.
Beberapa bulan kemudian lelaki berambut ikal itu berinisiatif mengganti disel tersebut dengan solar panel. Biaya awal yang dikeluarkannya sebesar Rp100 juta untuk kapasitas 9.600 watt. Memang terkesan mahal, namun pilihan itu dirasa tepat oleh Tono. “Kalau lihat harga memang terlihat mahal ya? Tapi untuk selanjutnya saya tak perlu lagi mikir bayar listrik hingga sepuluh tahun lebih,” kata Tono menjelaskan.
Pulau Karimunjawa merupakan Kecamatan di Kabupaten Jepara, dengan luas daratan sekitar 1500 hektare dan perairan sekitar 110 ribu hektare. Udara basah laut membuat Tono melakukan perawatan setiap dua bulan sekali untuk mengecek invetor, kabel-kabel dan panel.
Ia berharap suatu saat nanti pulau karimunjawa dipenuhi solar panel, agar kampung halamanya itu lebih ramah lingkungan.
Pegiat lingkungan solar generation, Amalia Narya mengatakan panas matahari sangat mudah didapatkan di Indonesia, sehingga solar panel menjadi salah satu solusi terbaik, termasuk di Karimunjawa yang panasnya cukup.
“Sehingga solar panel menjadi salah satu bagian dari energi terbarukan yang bisa kita miliki dengan mudah juga lebih efektif,” kata Amalia.
Amalia sangat mengapresiasi pilihan Tono untuk menggunakan solar panel di tempat timggalnya tersebut. “Tindakan mas Tono ini adalah upaya yang bagus untuk mencegah kerusakan lingkungan dan krisis iklim,” kata Amalia menjelaskan.
Menurut Amalia, pemasangan solar panel juga bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan biaya belanja sekitar Rp15 juta hingga Rp40 juta, dengan kapasitas 2.200 watt. Pembelian pun mudah, bisa dipesan di toko online termasuk pemasangan. (*)