
Serat.id-Gemericik suara air, bunyi kalung lonceng sapi, dan langkah kaki terdengar dari rumah Mbah Lasio yang berada di depan Pendopo Sedulur Sikep Karangpace Desa Klopoduwur, Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Rumahnya hanya sepetak, berdinding kayu, beralas tanah. Hiasan foto-foto lawas menempel di dinding. Di rumah inilah sesepuh Samin Surosentiko ini tinggal bersama Mbah Waini, istrinya.
Mereka biasa memulai rutinitas harian sejak pukul 04.00 WIB. Mbah Lasio mulai beranjak dari tempat tidur dan mengurus satu per satu sapi miliknya dengan mengeluarkan dari kandang. Suara gemboran sapi bersahutan menyambut pagi.
Mbah Waini memulai aktivitas di dapur dengan membereskan peralatan dapur yang masih kotor, menyapu sudut-sudut ruangan hingga di halaman rumah.
“Jam semene ya wis resik-resik (Jam segini ya sudah bersih-bersih ),” ucap Waini yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Dhok atau Mbah Wedhok, dengan logat Jawa.
Sembari menunggu matahari terbit, ia mempersiapkan bahan pangan untuk memasak.
Masyarakat Samin jarang pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan pangan pokok. Mereka memilih memanfaatkan hasil kekayaan alam di sekelilingnya.
Beras dari hasil mengolah lahan sawah, dan memanfaatkan berbagai jenis tanaman di sekeliling rumah untuk dimanfaatkan sebagai lauk pauk. Seperti pohon pepaya, pohon pisang, singkong, kacang-kacangan, dan lembayung.
Warga tidak merasa kekurangan dengan hasil alam yang mereka miliki. Mereka mengatasi keterbatasan dengan kreativitas dan inovasi.
“Masak menggunakan tanah liat. Daunnya diunyet dulu, rebus, lalu saring agar tidak pahit. Setelah air mendidih, daun dimasukkan ke panci. Kalau sudah empuk cuci bersih,” jelas Siti, warga Desa Klopoduwur sambil menunjukkan kembang pepaya yang baru dipetiknya.
Masyarakat di Klopoduwur memilih membeli bahan pangan pendukung dari pedagang sayur keliling. Harga bahan pangan di pasar jauh lebih mahal. Mereka harus pandai mengatur pengeluaran.
“Mending beli dari pedagang keliling,” ucap Siti.
Berdampingan dengan alam
Tak hanya mengurus sapi-sapi seperti Mbah Lasio. Masyarakat Samin menghabiskan waktu di sawah dan ladang sebagai petani.
Tak heran tiap pagi nampak pemandangan para warga berduyun-duyun berangkat ke sawah. Mereka berjalan kaki dengan menggendong pikulan. Sebagian memilih mengendarai motor lawas.
Mereka nampak guyup. Senyum lebar di setiap perjumpaan, memberi hormat dan bertegur sapa.
Para perempuan Samin tak segan melakukan aktivitas yang biasa para laki-laki lakukan.
“Angon” sapi seperti yang dilakukan Mbah Waini yang bergegas menarik sapi-sapi dari pekarangan untuk masuk ke kandang ketika sinar matahari mulai terasa panas di kulit.
matahari perlahan mulai naik, tepat pukul 09.00 WIB, Menurutnya, sapi-sapi harus rajin dikeluarkan dari kandang untuk mendapatkan Vitamin D.
“Iseh akih penyakit sapi, kudu dede (Sapi berjemur setiap hari agar tidak mudah terserang penyakit),” ucap Waini.
Pun dengan Mak Tik, adik Mbah Waini ini biasa ngarit (mencari rumput) untuk memberi makan sapi peliharaannya.
Setiap pagi pukul 07.00 WIB, ia berangkat “merumput” berbekal sabit, karung, dan jarik untuk menggendong rumput.
Mak Tik terbiasa ngarit sejak kecil. Ia terlihat sangat terampil mengayunkan sabit untuk memangkas rumput. Dalam waktu relatif cepat sudah mengumpulkan 2-3 karung rumput.
“Esuk 2 sak, mangke siang jam 2 sore 2 sak (Pagi 2 karung rumput, nanti siang jam 14.00 WIB ngarit lagi 2 karung,” terang Mak Tik.
Tak asal memangkas rumput. Mak Tik mempunyai aturan main saat mengambil kekayaan alam di sekitar sawahnya.
Seperti halnya masyarakat Samin memiliki semacam “perizinan” dengan alam. Tidak ada kalimat baku saat meminta izin untuk mengambil sesuatu dari alam. Mereka melakukannya setiap waktu.
“Macem-macem. Misale, Mi Bumi, iki gedhange ape tak kanggokno. Kedah izin kaleh bumi ( Cara pengucapan bermacam-macam. Mi, Bumi, saya akan mengambil pohon pisang ini. Saya harus izin dengan bumi),” ucap Mak Tik.

Tak berharap bantuan
“Sing enom ning nduwur, Lur!”
Teriak Yono, putra Mbah Lasio kepada beberapa pemuda Desa Klopoduwur yang “sambatan”.Di bawah terik siang itu, warga tetap bersemangat menyelesaikan pemasangan atap rumah milik Yati dengan menggunakan sisa-sisa kayu yang tak terpakai.
“Sambatan” menurut masyarakat Samin diartikan sebagai gotong royong atau bekerja sama. Biasanya, mereka ”sambatan” ketika ada salah satu warga sedang membangun rumah, atap, atau jalan umum.
Tidak meminta imbalan. Warga ikhlas memberi tenaga dan waktu untuk meringankan beban warga menuntaskan hajatnya.
“Ngeneki bareng-bareng, gotong royong. Gak iso ngundang tukang (Kami kerja bersama gotongroyong, Saya tidak mampu membayar tukang),” ujar Yati, pemilik hajat.
Yati mempersiapkan makanan untuk warga yang membantunya. Mereka akan makan bersama dengan hidangan sederhana setelah “sambatan” selesai.
Masyarakat Samin di Desa Klopoduwur terbiasan mandiri dalam segala hal. Tidak hanya dalam mencari sumber pangan dan papan. Samin di Klopoduwur tak pernah mengandalkan bantuan pemerintah.
Mbah Waini mengaku, sejak Pendopo Sedulur Sikep berdiri tahun 2010 lalu, belum ada pihak dari Pemerintah Kabupaten Blora memberi dukungan materiil.
“Mbok satu tahun sekali mriki ningali mbahe. Aneh Pemerintah Blora niku, padahal ikon Blora. Mboten diparingi mboten nopo-nopo. Ikhlase kulo nggih saking nenek moyang niku (Setahun sekali datang bertemu mbah. Samin itu ikon Blora. Saya ikhlas tidak mendapat bantuan, tanah ini dari nenek moyang),” keluh Mbah Waini.
Keluarga Mbah Waini yang harus menanggung biaya operasional Pendopo Sedulur Sikep dan pemeliharaan lingkungan sekitar. Termasuk harus menanggung hutang untuk membayar tagihan.
“Lampu disegel tahun 2010, mboten saget mbayar. Bayare katah, 300 ewu. Kulo utang mbah tuwek (Tahun 2010 listrik pernah di segel, tidak mampu bayar tagihan Rp 300 ribu. Saya harus hutang untuk melunasi),” ucap Waini.
Pembangunan jalan desa tak mendapat bantuan dari tangan pemerintah. Sebelumnya, rumah antar warga Samin di Rukun Tetangga (RT) 1 di Desa Klopoduwur terisolasi. Tidak ada jalan penghubung untuk memudahkan akses warga berkumpul dan aktivitas sosial.
Di akhir Mei 2022, Mbah Lasio menginisiasi dan mengajak masyarakat untuk membangun jalan penghubung dari bebatuan.
“Respon masyarakat nggih seneng. Ajane pengen damel dalan tapi mboten gadah duwit. Angsal grosokan saking sanak sedulur 1, 2 rit (Warga sangat senang. Sebenarnya ingin buat jalan tapi tidak punya dana. Kami dapat bantuan material batu dari donatur dapat satu, dua truk),” tuturnya.
Menurut Mbah Lasio, jalan penghubung antar RT memudahkan warga Klopoduwur mencari penghidupan.
“Wong urip niku sing goleki dalan. Nek wis kepanggih dalan niku pados rezeki, pangan lantas sandang. Makane kudu di dandani (Orang hidup mencari jalan. Kalau sudah bertemu jalan, nanti menemukan rezeki, pangan dan sandang. Jalan harus baik),” ucap Mbah Lasio.

Samin bukan prioritas
Di wilayah Blora terdapat dua desa tempat sebagian penganut ajaran Samin Surosentiko bermukim yakni di Desa Klopoduwur dan Desa Sambong.
Pemerintah Kabupaten Blora mengakui, pembangunan di sejumlah wilayah belum merata. Termasuk di kawasan pemukiman masyarakat penganut ajaran Samin Surosentiko di Desa Klopoduwur yang hidup mandiri.
Desa Klopoduwur letaknya tak jauh dari kota. Waktu tempuh dengan melintasi hutan jati hanya sekitar 17 menit berkendara. Akses jalan berlubang dan tanpa penerangan jalan.
Lingkungan Sedulur Sikep di Klpopoduwur masih sangat asri, persawahan hijau terbentang luas, ditambah pohon jati di sisi kanan kiri sepanjang jalan.
Kunto Aji, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blora menyebut belum ada kesetaraan antar dua desa tempat masyarakat Samin bermukim.
Kunto mengaku, pihaknya belum pernah memberi bantuan materiil ke Desa Klopoduwur.
“Ya, berproses dan berjalan sesuai prioritas. Sedulur sikep sama dengan warga lain di Blora dalam mengakses layanan informasi maupun pelayanan program pembangunan. Layanan BLT, BNPT, BPJS, KIS, KIP,” jelas Kunto kepada Serat.id.
Dinporabudpar Blora pun berjanji melakukan langkah progresif untuk kesejahteraasn masyarakat di desa Samin. Salah satunya membranding dua desa pemukiman masyarakat Samin menjadi desa wisata.
“Kita akan branding sebagai Desa Wisata Kampung Samin. Dengan inovasi dan kreativitas masyarakat sekitar bisa bergerak ke industri wisata,” Janji Kunto. (*NA)
Reporter: Sabrina Mutiara Fitri