“Aktivitas merokok selama pandemi dapat mempermudah penularan Covid-19 dan meningkatkan risiko pemburukan dari Covid-19”.

Lebih dari dua tahun sudah, Rudi, nama samaran, menjadi perokok aktif. Dalam sehari, remaja berusia 16 tahun kelas 2 di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Semarang itu dapat menghabiskan satu pak rokok. Padahal, saat awal masuk kelas satu SMK ia hanya mampu menghabiskan dua batang rokok dalam sehari.
“Aku jarang kumpul sama teman pas masa pandemi gini, sering ku merokok di warung atau di rumah sendirian. Kalau pas sakit malah aku sama sekali gak dibolehin keluar rumah, pasti nanti dimarahin ibu,” ujar Rudi, kepada Serat.id.
Remaja yang tinggal di Kelurahan Panggung, Kecamatan Semarang Utara itu sebenarnya sadar bahaya rokok. Namun karena telanjur kecanduan, ia tak mau berpikir buruk terhadap dampak tubuhnya.
“Inginnya berhenti, tapi susah. Lidah terasa asam, apalagi kalau setelah makan. Kalau sudah pusing inginnya merokok,” ujar Rudi menjelaskan.
Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Tengah, Mohammad Syarofil Anam, menyebut perokok anak sangat rawan terancam kesehatannya, salah satunya dapat merusak silia atau bulu getar dalam saluran pernafasan. Padahal saat masih anak, saluran pernafasan masih dalam tahap perkembangan dan belum mencapai tahap kematangan.
“Anak sekarang sudah mulai banyak yang datang di rumah sakit yang terkena tumor paru atau kanker nasofaring. Jadi yang tadinya orang dewasa, sekarang bergeser ke anak, penyebabnya perokok dini,”ujar Anam kepada Serat.id.
Berita terkait: Peraturan tentang Produk Tembakau yang Telah Usang
Anam menjelaskan kandungan nikotin pada rokok juga berbahaya karena dapat merusak metabolisme tubuh dan otak mereka. Bahkan dari nikotin tersebut yang membuat anak lebih mudah kecanduan dibandingkan usia dewasa.
Meski ia menyebut anak tetap masih dapat diselamatkan untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. Anak tersebut akan didiagnosa oleh dokter, sejauh mana level adiksinya.
“Anak itu pertama kali (merokok) jadi perokok aktif belum terlalu lama, harapan kita level adiksi gak selevel dewasa. Jadi lebih mudah ditangani dibanding yang lebih dewasa,” ujar Anam menambahkan.

Namun, meski anak tersebut nantinya telah berhenti merokok, jika keluarganya masih ada yang merokok tetap saja masih dapat membahayakan kesehatan anaknya. Karena anak justru akan menjadi perokok pasif dengan risiko kesehatan jauh lebih berbahaya, terlebih jika anak masih di bawah usia lima tahun.
“Ibu perokok hamil juga sama berbahaya, karena zat-zat toksik rokok bisa melalui plasenta bisa sampai ke bayi dan itu bisa membawa kecacatan pada bayi dan mempengaruhi daya tahan tubuh anak sehingga mudah sakit-sakitan, jadi tumbuh kembangnya terganggu,” ujar Anam menjelaskan.
Berita terkait: Perokok Anak Kota Semarang, Minim Penanganan di Lingkungan yang Rapuh
Anam menyebut anak yang merokok saat pandemi dapat mempermudah penularan virus Covid-19. Sebab aktivitas merokok pasti akan membuka masker. “Karena anak tersebut merokok berarti menyebar aerosol, termasuk virus kalau dia positif,” ujarnya
Ketua Tobaccco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (TCSC-IAKMI), Sumarjati Arjoso menduga selama pandemi Covid-19 terjadi peningkatan prevalensi perokok anak, sebab anak lebih sering terpapar dari iklan rokok dari gawai mereka dan juga pengawasan orang tua di rumah berkurang.
Anak tersebut, lantas akan memilih untuk nongkrong bersama teman sebayanya yang perokok aktif dan kemungkinan diajak juga untuk merokok.
“Padahal data dari Rumah Sakit Persahabatan untuk mereka yang merokok angka kematiannya tinggi,” ujar Sumarjati,”
Ia menjelaskan zat berbahaya dalam rokok seperti Tar dan benzene, bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan pertumbuhan kanker. Terlebih, pada kandungnan nikotin yang menyebabkan anak akan ketagihan, jika sehari tak mencobanya maka anak tersebut akan merasa lemas dan tak semangat dalam kesehariannya.
“Biasanya kalau anak-anak sudah merokok, dewasanya lebih cepat terkena kanker dan efek di anak anak langsung akan terkena asma dan ganguan paru, serta radang tenggorokan ,” kata Sumarjati menjelaskan.
Menurut dia perokok anak dapat menghilangkan kualitas generasi emas Indonesia, ini berkebalikan dengan visi Presiden, SDM Unggul Indonesia Maju. Kalau sudah visi presiden, maka harus didukung semua pembantu presiden (Menteri),” katanya. (*)