Minggu, Agustus 31, 2025
28.2 C
Semarang

Ini Penyebab Penutupan Sunan Kuning Mundur

Sejumlah anak asuh lokalisasi Argorejo atau Sunan Kuning saat pendataan ulang di gedung Rehabilitasi setempat, Kamis 15 Agustus 2019. Ody/serat.id

Belum ada kecocokan antara data pengelola dengan dinas sosial

Serat.id – Rencana Pemerintah Kota Semarang untuk menutup Lokalisasi Argorejo atau Sunan Kuning di Kelurahan Kalibanteng Kulon Kota Semarang, mundur dari rencana awal. Pantauan di lokasi pada Kamis 15 Agustus 2019 siang, menunjukan pemerintah Kota Semarang bersama pengelola Argorejo masih proses mendata seluruh anak asuh atau pekerja seks komersial.

“Sampai sekarang ini belum cocok antara data kami sebagai pengelola dengan dinas sosial, makanya hari ini dikumpulkan sehingga diharapkan adanya kecocokan,” kata Ketua Pengelola Sunan Kuning, Suwandi.

Berita terkait : Penghuni Lokalisasi Sunan Kuning Tolak Penutupan

Suwandi menyatakan kehadiran anak asuh yang dikumpulkan untuk mengsingkronkan atau mencocokkan data antara pengelola Argorejo dan Dinas Sosial. Hal itu menjadi alasan penyebab mundurnya penutupan lokalisasi yang seharusnya dilakukan pada pertengahan bulan ini.

“Sejak mulai tahun 2017 semua anak asuh berjumlah 476. Kemudian kami data terus hingga sampai sekarang berjumlah 455 anak asuh. Sedangkan data dari dinas sosial berjumlah 357 anak asuh,” kata Suwandi menambahkan.

Belum singkronnya data penghuni itu menimbulkan tali asih yang diberikan dari Kementerian sosial dan dinas sosial belum dicairkan.

Seorang penghuni kawasan Sunan Kuning, sebut saja Wulan, 30 tahun mengatakan keberatan jika meninggalkan lokalisasi Sunan Kuning. Ia mengaku di tempat menjadi satu-satunya mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan.

“Anak saya masih sekolah, kalau tempat ini ditutup, kami mau bekerja dimana lagi,” ujar Wulan. Ia juga menyayangkan besaran pemberian tali asih sebesar Rp10 juta, jika benar-benar ditutup. Wulan menyebut nilai uang tali asih biasa ia dapatkan dalam waktu sebelan kerja. “Bagi kami itu nilainya sangat kecil. Sebulan saja kami rata-rata bisa mendapatkan uang segitu,” kata Wulan yang sudah lima tahun bekerja di kawasan tersebut. (*) ODY
Odi

Hot this week

Pers Mahasiswa Ditangkap Saat Meliput Aksi di Mapolda Jateng, LBH Semarang: Polisi Sewenang-wenang

Sebanyak 40 demonstran yang ditangkap polisi di Semarang saat...

Polisi Kembali Tangkap Puluhan Demonstran di Semarang

Polisi kembali menangkap 50 orang massa aksi mendatangi Mapolda...

Jurnalis MNC Terluka Usai Meliput Aksi di Grobogan, AJI Semarang: Polda Jateng Harus Usut Tuntas Kasus Ini

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang mengecam keras aksi pembacokan...

Robig Penembak Mati Gamma Resmi Dipecat

Illustrasi sidang Robig Zainudin di Mapolda Jawa Tengah pada...

Lima Mahasiswa Aksi Hari Buruh Jalani Sidang Perdana di Pengadilan Negeri Semarang

Kelima mahasiswa saat sedang menjalani sidang perdana di Pengadilan...

Topics

Polisi Kembali Tangkap Puluhan Demonstran di Semarang

Polisi kembali menangkap 50 orang massa aksi mendatangi Mapolda...

Jurnalis MNC Terluka Usai Meliput Aksi di Grobogan, AJI Semarang: Polda Jateng Harus Usut Tuntas Kasus Ini

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang mengecam keras aksi pembacokan...

Robig Penembak Mati Gamma Resmi Dipecat

Illustrasi sidang Robig Zainudin di Mapolda Jawa Tengah pada...

Lima Mahasiswa Aksi Hari Buruh Jalani Sidang Perdana di Pengadilan Negeri Semarang

Kelima mahasiswa saat sedang menjalani sidang perdana di Pengadilan...

Puluhan Warga Pati Terluka, Sebagian Terkena Selongsong Peluru

Massa aksi saat melakukan protes kenaikan PBB sebesar 250...

Saparan di Kopeng, Tradisi Ucap Syukur Kepada Alam

Festival Budaya Kulon Kayon di dusun Sleker, Desa Kopeng,...

Robig Divonis 15 Tahun Penjara, LBH Semarang: Polri Harus Memecatnya

Suasana Sidang Robig Zainudin di Pengadilan Negeri Semarang, Jumat,...
spot_img

Related Articles

Popular Categories

spot_imgspot_img