Penolakan itu terkait kebijakan pemerintah melalui BBWSSO merencanakan menambang batu andesit di Desa Wadas sebagai material untuk membangun Bendungan Bener yang terletak sekira 10 kilometer di barat Desa Wadas.

Serat.id – Puluhan orang yang mewakili masyarakat Desa Wadas, Purworejo menggelar aksi menolak penambangan quarry di desanya. Aksi penolakan itu dilakukan di depan pintu gerbang kantor Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) di Yogyakarta.
“Kami para petani penolong negeri itu membutuhkan tanah untuk digarap,” ujar Penasehat Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempa Dewa), Insin Sutrisno sambil duduk di depan pintu gerbang BBWSSO, Kamis 3 Juni 2021.
Tercatat penolakan itu terkait kebijakan pemerintah melalui BBWSSO merencanakan menambang batu andesit di Desa Wadas sebagai material untuk membangun Bendungan Bener yang terletak sekira 10 kilometer di barat Desa Wadas.
Berita terkait : Ini Lima Pelanggaran Aparat Kepolisian Terhadap Warga Desa Wadas
Kekerasan Terhadap Warga Desa Wadas, Akademisi : Sosialisasi Yang Kerap Manipulatif
Aparat Bertindak Represif Terhadap Warga Desa Wadas Kabupaten Purworejo
Sutrisno menegaskan warga Wadas tidak akan menjual tanahnya kepada siapapun dan dengan harga berapa pun. Ia juga berharap desanya tidak dijadikan area penambangan lagi setelah masa berlaku Izin Penetapan Lokasi (IPL) penambangan quarry di Desa Wadas yang dikeluarkan pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu habis pada 5 Juni 2021.
“Jika tanah kami habis, apa pula yang akan kami berikan kepada anak cucu,” ujar Sutrisno menmabahkan.
Mantan guru ini juga mengatakan penambangan quarry akan menghancurkan alam dan peradaban warga Wadas. Sebagai orang beragama, penolakan itu menjadi wajib hukumnya karena Tuhan Yang Mahaesa meminta seluruh umat manusia menjaga alam.
Sedangkan Azim dari Kawula Muda Desa Wadas (Kamu Dewa) menolak klaim dari BBWSSO yang mengatakan sekira 70 persen warga Wadas menerima penambangan quarry. Faktanya, mayoritas warga Wadas menolak seperti dibuktikan dengan dukungan ratusan warga desa yang melepas kepergian perwakilan Desa Wadas menggelar aksi di BBWSSO.
“Yang setuju penambangan itu hanya sedikit, yaitu orang yang tinggal di luar Desa Wadas tetapi punya tanah di Desa Wadas. Jadi mereka tidak akan merasakan dampaknya jika penambangan quarry dilakukan,” ujar Azim.
Ia mengatakan penolakan warga Wadas ini adalah murni kesadaran mereka dan bukan akibat provokasi dari orang luar. Warga Wadas tidak menolak pembangunan Bendungan Bener yang akan digunakan untuk irigasi (15 ribu hektar), pembangkit listrik berkapasitas 6 MW dan menyuplai kebutuhan air bagi Yogyakarta International Airport di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Warga Wadas hanya menolak menolak penambangan quarry di desanya yang sebenarnya sudah ditetapkan pemerintah sebagai wilayah pertanian yang memiliki potensi bencana longsor.
“Gubernur Jawa Tengah (Ganjar Pranowo) yang lahir di Purworejo seharusnya mendengarkan suara warga Wadas, kami sudah menolak penambangan sejak dulu,” kata Azim menegaskan.
Yatimah mewakili Wadon Wadas mengatakan para perempuan di Wadas juga ikut berjuang menolak penambangan quarry di desanya. Kelompok perempuan menjadi pihak yang paling terkena dampaknya akibat dari hilangnya sumber air bersih untuk keperluan hidup sehari-hari.
“Kami sudah hidup sejahtera di Wadas, kami tidak membutuhkan penambangan,” tegasnya.
Aksi protes Warga Wadas di Yogyakarta itu disambut oleh komunitas pengguna pit dhuwur, sepeda yang memiliki ketinggian dua hingga tiga meter di Kawasan Tugu. Mereka kemudian mengawal warga Wadas yang menggunakan dua mobil dan beberpa sepada motor itu hingga ke Kantor BBWSSO di kawasan Janti. (*) BAMBANG MURYANTO (Yogayakarta)