Luas lahan di Jateng berkurang. Namun berbagai usaha intensifikasi dan ekstensi pertanian, menjadikan produksi padi di Jawa Tengah naik.

Serat.id – Produksi padi di Jawa Tengah pada tahun 2021 mencapai 9,618,657 ton dalam bentuk Gabah Kering Giling atau GKG. Produksi itu meningkat 1,36 persen dibanding 2020 yang tercatat 9,489,165 ton GKG.
“Jateng diakui sebagai provinsi lumbung beras ke dua setelah Jatim,” kata Kabid Tanam Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah, Edi Darmanto, dikutip dari jatengprov.go.id, Jum’at, 4 Maret 2022.
Edi mengatakan lima besar daerah di Jateng penyumbang produksi padi meliputi Kabupaten Grobogan 800.945 ton, Sragen 743.074 ton, Cilacap 739.140 ton, Demak 656.823 ton, dan Pati 549.005 ton.
Ia tak menampik, luas lahan di Jateng berkurang. Namun berbagai usaha intensifikasi dan ekstensi pertanian, menjadikan produksi padi di Jawa Tengah naik. Jateng telah meningkatkan produksi beras dengan program peningkatan indeks pertanaman. Program itu mampu meluaskan panen di Jateng juga naik 1,79 persen dibanding 2020 yang awalnya 1,67 juta hektare menjadi 1,70 juta hektare, pada 2021.
“Luas panen kita naik, karena kita punya program peningkatan indek pertanaman. Yang biasanya tanam dua kali jadi tiga kali. Yang biasanya tiga kali jadi empat kali. Tambah satuan luas, dengan provitas tertentu sehingga menambah produksinya,” ujar Edi mejelaskan.
Menurut dia, ada beberapa langkah yang ditempuh untuk menggenjot produksi padi di Jateng. Pertama, memanfaatkan benih unggul yang berproduktivitas tinggi, berumur pendek dengan rasa yang enak. Selanjutnya, menggunakan teknologi mekanisasi pertanian secara konsisten seperti traktor, transplanter yang dapat mempercepat proses tanam padi dan pada saat panen menggunakan combine harvester.
Ditambahkan, Distanbun Provinsi Jateng juga memberdayakan Penyuluh Pertanian dalam pendampingan teknologi budidaya dan Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT). Hal tersebut dilakukan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit.
Selain itu, Jateng juga memunyai brigade olah tanah, dan brigade pengendalian hama serta penyakit. Brigade tersebut tersebar di enam eks karesidenan Wilayah Semarang, Surakarta, Pati, Kedu, Banyumas dan Pekalongan.
“Upaya lain yang ditempuh melalui gerakan pompanisasi dan pemanfaatan long storage di beberapa daerah, dalam rangka mencukupi kebutuhan air disaat kemarau,” kata Edi menambahka.
Ia tak memungkiri keberadaan waduk yang banyak dibangun di Jateng juga menjadi faktor luas tanaman padi di Jateng tetap tinggi. Dengan luas tanam dan luas panen bertambah, maka produktivitasnya naik, menjadikan produksi padi di Jateng terus meningkat.
“Untuk pupuk (subsidi) kita memang kurang, karena yang disubsidi pemerintah hanya 48 persen dari kebutuhan. Nah inisiasi dari kepala dinas (pertanian) di daerah masing-masing kabupaten, bisa di dorong lebih kreatif mempergunakan pupuk organik dan memanfaatkan jerami kembali ke sawah, menambah pupuk hayati pembenah tanah,” katanya.
Edi yakin pada tahun ini produksi padi bisa jauh lebih tinggi. Karena, selain gerakan yang telah dilakukan, Jateng juga getol mempraktikan teknologi pertanian 4.0. Dengan teknologi itu diharapkan petani muda milenial tertarik terjun ke dunia pertanian. (*)