“Bulan Juni 2021 kenaikan kematian dokter meningkat 7 kali lipat di dibandingkan bulan Mei 2021, dengan di bulan Juli saja sudah tercatat 35 dokter meninggal, ”

Serat.id – Total jumlah kematian tenaga kesehatan berdasarkan data LaporCovid-19 per 9 Juli mencapai 1.183 orang, mereka meninggal terpapar Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 lalu. Sedangkan dokter meninggal akibat Covid-19 per 8 Juli 2021, mencapai 458 orang.
“Bulan Juni 2021 kenaikan kematian dokter meningkat 7 kali lipat di dibandingkan bulan Mei 2021, dengan di bulan Juli saja sudah tercatat 35 dokter meninggal, ” kata Ketua Tim Mitigasi Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi, dalam penrytaan remsi yang dikirimkan Lapor Covid-19, Minggu, 11 Juli 2021
Adib menjelaskan banyak dokter yang terpapar di tengah ledakan kasus. “Sedangkan banyak Nakes yang terpapar dan ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah, terutama di wilayah Jawa Timur,” kata Adib menambahkan.
Tercatat di Jawa Timur terdapat 124 dokter yang sakit di Surabaya, beberapa kritis dan bahkan meninggal. Di Yogyakarta, 167 dokter terpapar, dengan beberapa juga meninggal. Hal itu jelas mempengaruhi layanan kesehatan yang dapat diberikan kepada warga di lapangan.
Kondisi itu disebut oleh Adib sebagai functional collapse ketika kebutuhan masyarakat sangat tinggi atau flow pasien yang terus mengalir, namun banyak dokter yang sudah sakit, sehingga jika tidak ada intervensi di hulu, maka akan terus memberikan risiko kepada nakes.
Menurut Adib, demi perlindungan dan keamanan di fasilitas kesehatan, diperlukan zonasi di fasilitas kesehatan dan triase pre-rumah sakit, “Harus ada fasilitas khusus Covid-19 saja, selain itu harus ada upaya pemberdayaan Nakes dengan sistem shifts dan memastikan bahwa mereka memiliki sertifikasi untuk menjaga mutu pelayanan kesehatan masyarakat,” katanya.
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Emi Nurjasmi, mengatakan total bidan meninggal mencapai 208 orang, sebnayak 39 bidan meninggal per 8 Juli 2021. Ia menyebut permasalahan yang dihadapi bidan adalah ketika ibu hamil positif tidak dapat dirujuk RS.
“Maka pasien harus ditangani oleh bidan, padahal risiko sudah tinggi terutama karena fasilitas untukCovid-19 belum memadai khususnya untuk klinik mandiri. Bahkan karena banyaknya pasien, bidang yang sedang isolasi mandiri juga harus masuk.” Kata Emi.
Ia juga menyatakan bahwa kematian nakes mungkin juga dikontribusikan oleh banyaknya bidan yang dilibatkan sebagai vaksinator tanpa APD yang lengkap. Keterpaparan yang meningkat juga menyumbang pada kematian di kalangan bidan, “Padahal seluruh bidan sudah divaksin” kata Emi menjelaskan.
Tak hanya kelelahan, perawat juga mengalami kekerasan
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah, mengatakan bahwa tekanan yang dipikul oleh perawat sangat besar “Dengan kasus yang meningkat, dan jumlah perawat yang berkurang, maka beban fisik dan mental juga bertambah. Dalam satu minggu, perawat bahkan mengalami mengalami kekerasan fisik saat pelayanannya,” ujar Hanif.
Harif menyoroti beban ganda yang dipikul oleh perawat di Puskesmas yang harus melakukan vaksinasi, dengan target vaksinasi yang tinggi. “Belum lagi tugas-tugas lainnya,” kata Harif menmabahkan.
Selain itu fokus pada perlindungan bagi perawat juga sangat rendah, seperti permasalahan pada insentif dan juga fasilitas kesehatan bagi perawat yang terpapar. Hal itu menjadi alasan ia mengusulkan perlunya perlindungan bagi perawat yang dijamin sedemikian rupa.
“Vaccination booster mungkin juga perlu diusulkan, tentunya setelah mendapat persetujuan ilmiah dan kajian studi,” kata Hanif menjelaskan. (*)