BERBAGI

Serat.id– Koordinator Komunitas Pegiat Sejarah, Rukardi Achmadi meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meninjau ulang pembangunan toilet umum yang berdekatan dengan situs bersejarah sumur tua artesis yang berada di Taman Srigunting, Kota Lama Semarang.

“Mestinya situs sumur tua yang memiliki sejarah perkembangan kota mesti dilestarikan dikelola dengan baik, bukan justru di tutup- tutupi dan bahkan disandingkan dengan toilet umum, “ katanya ketika dihubungi Serat.id, Jumat, 17 Mei 2019.

Menurut Rukardi sumur itu dibuat oleh Pemerintah Kota Semarang pada 1841. Sumur dibuat untuk mengurangi dampak buruk wabah penyakit kolera dan malaria yang kala itu melanda Kota Semarang.

“Penyakit malaria mudah berbiak lantaran kota ini sering dilanda banjir dan dikelingi rawa yang menjadi habitat nyamuk Anopheles,” katanya.

Menurut Rukardi peristiwa terparah wabah kolera di Kota Semarang terjadi pada 1821. Saat itu sekitar 150-200 orang meninggal setiap hari. Selain membangun sumur di Paradeplein (sekarang sumur artesis di Taman Srigunting), Pemerintah Kota Semarang juga membangun sumur sejenis di Tawang, Karang Bidara (sekarang Jalan Raden Patah) dan Poncol.

“Keberadaan  sumur-sumur tersebut efektif menekan angka kematian akibat wabah kolera,” ujarnya

Penulis buku Aku Agen Berita, Catatan Tercecer Seorang Wartawan,
Johannes Christiono mengatakan, toilet yang dibangun Pemkot saat ini seharusnya dipindahkan agar tidak bedekatan dengan situs sumur tua di Kota Lama Semarang.

 “Seharusnya toilet umum (itu dibangun) di tempat parkir, dan juga toilet itu kan sudah ada di masing- masing objek (bangunan kota lama Semarang),” katanya ketika dihubungi Serat.id, Jumat, 17 Mei 2019.

Seorang pekerja proyek, Daroni menyebut toilet yang dibangun tidak akan mengotori sumur karena menggunakan bio fuel tank. “Karena (kotoran) tersebut akan langsung ditampung ke bak hijau (ke bio fueltank), “ ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here