BERBAGI

Pemanfaatan energi terbarukan menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan.

ilustrasi energi terbarukan
[Ilustrasi] Energi terbarukan. (Abdul A/serat.id)

Serat.id – Kabupaten dengan sebutan kota Santri tersebut dianugerahi ekosistem hutan alam yang melimpah dan kaya akan sumber daya. Bahkan hutan alamnya merupakan hutan tropis terbesar yang berada di Pulau Jawa.

Data Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Pekalongan Timur menyebutkan, hutan di wilayah Kabupaten Pekalongan luasnya mencapai 29.000 hektare, terdiri atas 26.000 hektare hutan Produksi Terbatas yang dimanfaatkan untuk para petani dan 3.000 hektare hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis.

Baca juga: Daerah Ini Manfaatkan Potensi Energi Terbarukan dari Pembangkit Air

Luasan lahan hutan tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Petungkriyono, Lebakbarang dan Paninggaran. Ketiga kecamatan tersebut masuk dalam sabuk pegunungan Dieng.

Baca Juga  Daerah Ini Manfaatkan Potensi Energi Terbarukan dari Pembangkit Air

“Maka tak heran, stok sumber energi terbarukan di kabupaten Pekalongan melimpah, seperti surya (solar), air (hydro), angin (wind), panas bumi (geothermal), bioenergi (biomassa),” ujar Andi Suwanto (45), pendiri Komunitas Biji Indonesia (KOMBI), kepada serat.id

Bagi Andi, pemanfaatan energi air melalui pembangunan PLTMH merupakan langkah untuk mendorong masyarakat dalam menjaga lingkungan hutan, di antaranya dengan tidak menebang hutan sembarangan. Karena tanpa cadangan air yang disimpan di hutan, PLTMH tidak bisa beroperasi maksimal.

Baca juga: Dusun Totogan Tak Lagi Gelap

“Selain penggunaaan energi terbarukan yang ramah lingkungan,hutan kabupaten Pekalongan ini masih terdapat habitat satwa-satwa dan flora endemik Jawa yang langka dan harus dilindungi, seperti Owa, Macan tutul, dan Elang Jawa,” kata Andi menambahkan.

Baca Juga  Dusun Totogan Tak Lagi Gelap

Andi juga mengkritik soal pola pikir masyarakat yang hingga saat ini masih menganggap bahwa energi terbarukan hanya sebagai energi alternatif. Pemahaman ini berbahaya, karena dapat diartikan bahwa energi terbarukan baru akan dimanfaatkan saat energi yang biasa kita gunakan yaitu energi fosil sudah habis.

Pada kenyataannya, energi terbarukan adalah solusi untuk menggantikan penggunaan energi fosil serta menjawab ancaman krisis energi dunia yang mengancam di masa depan.

“Artinya, pemanfaatan energi terbarukan seharusnya segera diimplementasikan sebelum krisis energi benar-benar terjadi,” katanya. (*)

Penulis: Danang Diska Atmaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here