BERBAGI
Kus Sri Antoro (berpeci hitam) sedang memainkan wayang bersama ayahnya (sebelah kanan), Samidjan dalam sebuah pentas sederhana di Pondok Pesantren Waria, Al Fatah Kotagede, Yogyakarta, Jumat 11 Desember 2020. (Bambang Muryanto/Serat.id)

Samidjan, seorang pembuat boneka wayang dari limbah plastik dan anaknya, Kus Sri Antoro menampilkan lakon dengan tokoh wayang transgender pertama  di Indonesia dan (mungkin) dunia dengan nama Betari Jaluwati (waria) dan Bambang Priawan (transman). Tokoh wayang ciptaanya dipentaskan pertama di Pondok Pesantren Waria, Al Fatah, Kotagede, Yogyakarta, Jum’at pertengahan desember lalu

Serat.id – Sore itu hujan membasahi Kotagede, Yogyakarta. Udara sejuk menyelimuti para waria yang meriung di Pondok Pesantren (Ponpes) Waria, Al Fatah, menyaksikan pagelaran wayang transgender yang dimainkan “dalang dadakan” Samidjan dan anaknya, Kus Sri Antoro di teras rumah Joglo, bangunan utama pesantren itu.

Samidjan dan Kus  menampilkan tema tentang kisah transgender bernama Bambang Priawan yang priawan (transman) merasa sedih setelah dirisak seorang bertabiat sombong, Durmogati namanya. Ia mencela badannya yang tidak kokoh. Kesedihannya bertambah karena pemerintah juga tidak mengakui identitas gender seperti dirinya, faktanya transgender ada tetapi “ditiadakan” karena dianggap menyimpang.

“Membuat KTP saja perjuangannya seperti melawan Kumpeni, ya ampun, ya ampun,” ujar Bambang Priawan yang dimainkan oleh Samidjan, Jumat 11 Desember 2020.

Baca juga : Wayang Kulit “Wibisana Tundung” digelar Secara Virtual

Festival Jatiwayang Cermin Persatuan Kebersamaan dan Toleransi

Wayang Edukasi Ramaikan Perayaan Hari Anak Nasional

Tawa pun pecah, para waria menertawakan kegetiran hidup yang dikisahkan dengan jenaka. Pentas berlangsung saat para waria berkumpul di Ponpes yang berdiri sejak tahun 2008 itu untuk mengikuti program “Waria Lansia Sejahtera,”.

Tema yang ditampilkan dalam lakon wayang trangender sengaja mengangkat  persoalan serius yang dihadapi transgender, terutama soal kartu tanda penduduk (KTP) yang sering dihadapi waria. Keinginan mengekspresikan gender sebagai perempuan membuat mereka terbuang dari keluarga. Tidak berbekal dokumen kependudukan menyulitkan mereka mendapat KTP di tempat tinggal baru. Akibatnya waria tidak bisa mengakses berbagai layanan yang disediakan negara seperti kesehatan.

Kisah Bambang yang mengalami galau berat itu memilih bersemedi, mencari pencerahan di sudut Ponpes Waria, Al Fatah. Gayung bersambut, Dewa Betari Jaluwati yang seorang waria itu turun dari Kayangan menemuinya sambil menyanyikan refrain dari lagu berjudul “Posesif “ milik Grup Naif yang dirilis tahun 2000.

“Mengapa aku begini, jangankan kau mempertanyakan…,” ujar Betari Jaluwati dengan kemayu.

Lagi-lagi tawa penonton membahana melihat cara Kus memainkan tokoh Betari Jaluwati. Hidangan makanan khas Kotagede, lego moro, kacang rebus, pisang rebus dan teh panas membuat penonton semakin gayeng menikmati pentas wayang transgender itu.

Setelah mereka berdialog dengan kocak soal operasi tubuh, Betari Jaluwati menasehati Bambang Priawan agar tidak bersedih. Ia mengatakan manusia juga tidak tahu apakah Tuhan itu pria atau wanita. Karena itu para transgender tidak perlu bersedih hati dengan kondisi tubuh yang dihadapinya.

Para waria itu pun bertepuk tangan mendengar wejangan Betari Jaluwati.  Singkat cerita, Betari Jaluwati yang mempunyai pusaka “pengetahuan dan keberanian” masuk ke tubuh Bambang Priawan agar ia bisa memperjuangkan hak-hak kaum transgender.

Baca juga : Keji, dituding mencuri HP Seorang Transgender Mati dibakar

Ini Kata Rumah Pelangi Indonesia Soal Pemecatan Polisi Gay

Sulitnya Mencari Penghidupan Bagi Mereka

Nama Bambang Priawan pun berubah menjadi Warya Bissunanda. Warya berasal dari kata waria, Bissu merujuk pada transgender pemimpin agama lokal di Sulawesi Selatan, dan Nanda dari bahasa sansekerta yang artinya sukacita dan bisa disematkan untuk nama pria dan wanita.

Samidjan dan Kus mementaskan lakon selama 20 menit itu untuk memperkenalkan tokoh wayang transgender pertama di Indonesia dan bahkan dunia. Setelah pentas, Kus menyerahkan duplikat tokoh wayang Betari Jaluwati dan Bambang Priawan sebagai tanda mata kepada pemimpin Ponpes Waria, Al Fatah, Shinta Ratri.

“Pentas ini merupakan suatu bentuk keprihatinan saya, siapa lagi yang akan memikirkan transgender,” ujar Samidjan yang tinggal di Kricak, Kota Yogyakarta itu.

Sebelum pentas, Kus dan ayahnya berbincang-bincang dengan Shinta Ratri dan waria lainnya. Kus bercerita, ia dan ayahnya menciptakan tokoh wayang marginal karena cerita wayang kulit klasik dan tokohnya sudah baku sehingga tidak bisa merespon persoalan jaman seperti pemenuhan hak-hak dasar kelompok minoritas.

Cerita wayang juga sudah sangat patriarkis. Tokoh Semar yang sebenarnya secara identitas bukan perempuan dan pria itu kemudian dibuat menjadi pria. Ia dipanggil dengan nama Ki Semar.

“Ini adalah bagian dari proyek wayang marginal, kami juga akan membuat tokoh wayang disabilitas, petani, buruh dan lainnya,” ujar Kus.

Kus yang menekuni persoalan seni dan isu sosial itu mengatakan siapa saja boleh memainkan wayang transgender sepanjang menghormati jati diri dan hak-hak kemanusiaan transgender. Tetapi ia melarang menggunakannya sebagai bahan tertawaan.

“Khusus wayang transgender, kami sedang menyusun naskah khusus dan kini sedang menunggu persetujuan dari subjek yang diwayangkan,” ujarnya.

Berdasarkan konstitusi kita, semua warga negara termasuk kelompok lesbian, gay, biseks, transgender dan queer (LGBTQ) harus dipenuhi hak asasi manusianya. Tetapi faktanya pemerintah masih sering mengabaikannya.

Ia mencontohkan kisah seorang waria bernama Sofia. Masthuriyah Sa’dan, penulis berjudul “Santri Waria” (2020) mengabarkan Sofia dikeluarkan dari tempat kerjanya karena ingin berpakaian perempuan. Kasus ini terjadi karena pemerintah tidak memiliki aturan yang melindungi waria

pekerja yang ingin tampil dengan pilihan ekspresi gendernya.

Sedangkan masyarakat sendiri masih belum dapat menerima sepenuhnya. Hasil riset dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dipublikasikan Januari 2018 menyatakan mayoritas masyarakat masih menganggap LGBTQ membahayakan dan dilarang agama. Masyarakat juga menolak LGBTQ duduk pada jabatan publik.

Padahal menjadi LGBTQ itu bukan pilihan dan bukan penyakit tetapi sesuatu yang terberikan (given) sejak lahir. Yuni Sara, seorang waria yang aktif di Ponpes Waria, Al Fatah pernah mengatakan kepada para jurnalis yang berkumpul di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, ia sudah suka mengenakan pakaian perempuan sejak balita.

“Kalau tidak dituruti, saya menangis,” ujarnya waktu itu.

Samidjan yang sudah membuat wayang dari plastik sejak 2001 – untuk mengurangi sampah plastik — dapat membuat wayang transgender dengan halus dan rapi. Hasil wayang plastik kreasinya, selain lebih awet juga tidak bisa dibedakan dengan wayang kulit. Ia menatah badan wayang dengan menggunakan soldir (bukan tatah besi) agar bahan plastiknya tidak pecah.

Supaya tampil seperti wayang klasik, tokoh Betari Jaluwati dibuat dengan mempertahankan ciri khas wayang berjenis kelamin pria, yaitu ada bokongan, kain bulat yang menutup pantat hingga kaki. Namun ia mempunyai payudara yang ditutup kain kemben sehingga menegaskan sosoknya sebagai waria.

Sedangkan tokoh Bambang Priawan yang priawan dibuat dengan dekorasi kain yang menutupi kaki dan menjuntai ke depan. Ini adalah ciri khas wayang perempuan. Tetapi sosok ini digambarkan tidak lagi memiliki payudara.

“Yang paling sulit itu membuat bentuk wayangnya karena tidak ada referensi wayang transgender,” ujar Kus.

Wayang transgender juga diberi warna pelangi, simbol internasional dari LGBTQ. Bahannya dari plastik mika yang transparan sehingga saat pentas dan disorot dengan lampu, warnanya akan muncul di layar geber yang jadi latar belakang pentas wayang kulit.

Shinta Ratri berterima kasih kepada Samidjan dan Kus. Penerima penghargaan Pembela Hak Asasi Manusia dari Front Line Defenders (2019) itu berharap wayang transgender bisa dipentaskan di Ponpes Waria, Al Fatah secara berkala.

“Kami mempunyai rencana mementaskan tari untuk para turis. Saya harap wayang transgender juga bisa dipentaskan,” ujarnya.

Mama Vinolia, seorang waria senior di Yogyakarta yang ikut menonton pentas sore itu menyatakan antusias dengan wayang transgender. Dalam diskusi kecil setelah pentas, aktivis HIV/AIDS ini mengutarakan kekecewaannya sebab dalam cerita wayang kita, tokoh Srikandi digambarkan sebagai seorang perempuan. Padahal aslinya, di India yang menjadi asal cerita wayang sejak ratusan tahun lalu, Srikandi adalah seorang waria.

“Sejak jaman dulu waria itu sudah ada,” ujarnya.

Mama Vinolia berharap wayang transgender bisa membantu perjuangan para waria. Hujan masih turun di Kotagede, di luar sana masih banyak waria yang resah dengan penerimaan dirinya karena dikucilkan pemerintah dan masyarakat. (*) BAMBANG MURYANTO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here